Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Korban Tewas Banjir-Longsor di India Jadi 159 Orang, Puluhan Hilang

Senin, 26 Juli 2021 | 10:07 WIB Last Updated 2021-07-26T03:07:44Z

 

Banjir di India


New Delhi
 - Korban tewas akibat banjir dan tanah longsor yang dipicu musim penghujan parah di India melonjak menjadi 159 orang. Petugas penyelamat hingga kini masih mencari puluhan orang lainnya yang dilaporkan hilang.


Seperti dilansir AFP, Senin (26/7/2021), wilayah pantai barat India diguyur hujan deras sejak Kamis (22/7) pekan lalu, dengan Departemen Meteorologi India memperingatkan hujan deras masih akan mengguyur hingga beberapa hari ke depan.


Banjir dan tanah longsor tergolong sering terjadi saat musim penghujan melanda India, dengan bangunan yang dibangun secara buruk ambruk setelah berhari-hari diguyur hujan. Para pakar menyebut perubahan iklim juga memicu peningkatan frekuensi dan intensitas untuk banjir tahunan di India, sebagaimana dikutip detikcom.


Di negara bagian Maharashtra, sedikitnya 149 orang dipastikan tewas, termasuk 40 orang yang menjadi korban longsor parah yang melanda area perbukitan desa Taliye yang berjarak 250 kilometer sebelah tenggara Mumbai.


Salah satu warga desa setempat, Jayram Mahaske, yang keluarga terjebak longsor, menuturkan kepada AFP bahwa 'banyak orang hanyut saat berupaya menyelamatkan diri'.


Seorang warga lainnya, Govind Malusare, menyebut jenazah keponakannya telah ditemukan usai longsor menerjang rumah keluarganya, namun ibunda, saudara laki-laki, saudara ipar dan keponakannya yang lain masih hilang.


Beberapa warga menuturkan kepada AFP bahwa puluhan rumah rata dengan tanah dalam hitungan detik, dengan hanya dua bangunan berstruktur beton yang masih berdiri. Aliran listrik ke desa tersebut juga masih terputus.


Di distrik Satara, yang masih termasuk negara bagian Maharashtra, banjir dan longsor dilaporkan menewaskan 41 orang setelah 28 jenazah korban ditemukan.


Terputusnya aliran listrik berdampak pada meninggalnya delapan pasien virus Corona (COVID-19) yang menggunakan ventilator.


"Ketinggian air mencapai atap toko saya, ada terlalu banyak air di dalam," tutur seorang penjaga toko setempat kepada media lokal NDTV. "Semua pertokoan di area ini rusak parah. Banjir menyisakan banyak lumpur, kami bahkan tidak bisa lanjut bekerja," imbuhnya.


Sekitar 230.000 orang dievakuasi di negara bagian tersebut saat bencana melanda. Petugas penyelamat melakukan pencarian sekitar 100 orang yang masih hilang di tengah banjir setinggi pinggang yang diwarnai lumpur, dengan alat bantu ekskavator.


Di negara bagian Goa, seorang wanita dikhawatirkan tewas tenggelam saat banjir menerjang. Kepala Menteri setempat, Pramod Sawant, menyebut banjir ini yang terburuk sejak 1982 silam.


Ketinggian air banjir di wilayah Goa bagian utara dilaporkan telah surut dengan orang-orang yang tadinya mengungsi, mulai kembali ke rumah masing-masing. Namun di dataran pantai yang membentang di Maharashtra dan Goa, ketinggian banjir tetap tinggi setelah sungai-sungai meluap dan memaksa warga mengungsi ke atap bangunan dan lantai atas.


Di negara bagian Karanataka, korban tewas dilaporkan bertambah menjadi 9 orang. Empat orang lainnya masih hilang. Aliran listrik ke 11 distrik yang terdampak terputus di negara bagian ini.


Ilmuwan iklim dari Institut Meteorologi Tropis India, Roxy Mathew Koll, menyebut perubahan iklim telah menghangatkan Laut Arab. Dia menyebut bahwa suhu air yang tinggi membuat udara di atasnya menjadi hangat dan memiliki lebih banyak kelembapan, sehingga memicu hujan lebih ekstrem.


Dia menambahkan bahwa Mumbai dilanda hujan dengan curah mencapai 594 mm pekan lalu -- tertinggi sejak pencatatan mulai dilakukan seabad lalu.


"Kita melihat peningkatan curah hujan ekstrem hingga tiga kali lipat, sejak tahun 1950," tuturnya kepada AFP. "Dalam beberapa tahun terakhir, dampak perubahan iklim lebih jelas. Faktanya, apa yang terjadi di Eropa, China dan seluruh dunia serupa dengan apa yang terjadi di India," tandasnya. (*).


ADSEN KIRI KANAN