Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Demo Krisis Air Bersih Berujung Rusuh di Iran, 3 Orang Tewas

Kamis, 22 Juli 2021 | 13:23 WIB Last Updated 2021-07-22T06:23:00Z

 

Ilustrasi demonstrasi


Jakarta -- Sekitar tiga orang tewas tertembak dalam demonstrasi berujung kerusuhan memprotes kekurangan pasokan air bersih dalam sepekan terakhir, di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran.


Salah satu dari tiga korban tewas itu merupakan perwira polisi. Gubernur Khuzestan, Fereydoun Bandari, menuturkan polisi itu tewas saat mengamankan demonstrasi di kota pelabuhan Mahshahr.


"Rakyat Khuzestan menggelar protes malam hari, protes yang telah terpendam selama bertahun-tahun," kata surat kabar reformis Arman-e Melli, seperti dikutip Arab News pada Kamis (22/7).


Sementara itu, di Izeh, gubernur setempat, Hassan Nobovati, mengatakan seorang pemuda ditembak mati oleh perusuh dalam demonstrasi serupa. Kerusuhan unjuk rasa di Izeh turut melukai 14 polisi, sebagaimana juga dikutip cnnindonesia.


Pemerintah di Kota Shadegan mengatakan seorang pengunjuk rasa ditembak mati oleh para perusuh dalam demo itu.


Sejumlah video yang tersebar di media sosial menunjukkan demonstrasi terjadi di Ahvaz, Hamidiyeh, Izeh, Mahshahr, Shadegan, dan Susangerd. Ratusan pedemo meneriakkan slogan anti-pemerintah, sambil dikelilingi polisi anti huru-hara.


Surat kabar Etemad melaporkan tagar #SayaHaus dalam bahasa Arab menjadi tren di media sosial demi menarik perhatian dunia terkait penderitaan rakyat Khuzestan.


Khuzestan adalah rumah bagi minoritas kaum Muslim Sunni di Iran yang sebagian besar penduduknya menganut Syiah. Kaum Sunni di Iran kerap mengeluh sering terpinggirkan akibat perbedaan aliran kepercayaan mereka.


Pada 2019, Provinsi Khuzestan menjadi titik utama protes anti-pemerintah.


"Ada tanda-tanda protes dan kerusuhan di provinsi itu sejak lama tetapi para pejabat seperti biasa menunggu sampai kisruh untuk mengatasinya," bunyi laporan Etemad.


Demonstrasi kali ini dipicu oleh kekurangan air bersih yang selama ini dirasakan rakyat Khuzestan ketika musim panas tiba. Pada Rabu kemarin, stasiun televisi pemerintah Iran memperlihatkan antrean panjang truk air di depo air bersih yang terletak di beberapa daerah Khuzestan.


Selama bertahun-tahun, gelombang musim panas ekstrem dan badai pasir musiman terus membuat dataran Khuzestan yang dulu subur menjadi gersang dan tandus.


Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim menjadi pemicu utama kekeringan di daerah tersebut.


"Karena hampir 5 juta orang Iran di Khuzestan kekurangan akses ke air minum bersih, Iran gagal menghormati, melindungi, dan memenuhi hak atas air bersih, yang terkait erat dengan hak standar kesehatan tinggi," bunyi pernyataan kelompok aktivis Human Rights Activists.


Presiden Hassan Rouhani pada awal Juli lalu mengatakan Iran sedang menghadapi kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan curah hujan turun 52 persen dibandingkan tahun sebelumnya.


Pemerintah pusat mengutus perwakilan ke Khuzestan pekan lalu untuk mengatasi kekurangan air.(*)

ADSEN KIRI KANAN