Notification

×

MGID ATAS

Adsen

115 Tewas, Puluhan Hilang Akibat Banjir Terparah India

Minggu, 25 Juli 2021 | 08:16 WIB Last Updated 2021-07-25T01:16:49Z

 

Banjir terparah di India dalam 50 tahun terakhir


Jakarta
 -- Banjir India menelan korban tewas hingga 115 orang dan saat ini tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap puluhan korban hilang dan sebanyak 150 ribu warga dievakuasi akibat banjir.


Hujan deras mengguyur pantai barat India dalam beberapa hari terakhir di dekat ibu kota keuangan Mumbai. Hujan menyebabkan banjir terburuk dalam beberapa dasawarsa terakhir di negara bagian Goa.


Saksi mata AFP menyebut tanah longsor di desa lereng bukit Taliye, selatan Mumbai, meratakan lusinan rumah dalam hitungan menit dan hanya menyisakan dua bangunan beton yang masih berdiri, sebagaimana juga dikutip cnnindonesia.


"Itu terjadi begitu cepat," kata Dilip Pandey, yang melihat bencana itu terjadi Kamis malam.


"Ada suara gemuruh yang sangat besar dan desa itu langsung runtuh," katanya kepada AFP.


Pekerja darurat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari korban selamat. Namun, mereka lagi-lagi menemukan korban tewas yang membuat para kerabat cemas. Tanah longsor menyumbang sekitar sepertiga dari 112 kematian terkait monsun yang tercatat di negara bagian Maharashtra.


"Orang-orang hampir kehilangan segalanya," kata menteri kesehatan Goa Vishwajit Rane.


Menurutnya, negara bagian yang berbatasan dengan Maharashtra itu belum pernah mengalami hujan deras seperti itu dalam setengah abad terakhir. Dia mengatakan banjir telah merusak lebih dari 1.000 rumah.


Senada, Kepala Menteri Pramod Sawant, mengatakan banjir Goa jadi yang terburuk dalam beberapa dasawarsa, terakhir.


Hujan lebat juga menyebabkan banjir di banyak wilayah di negara bagian Karnataka, menewaskan tiga orang dan memicu evakuasi 9.000 warga, kata para pejabat.


Dilaporkan total terdapat delapan kejadian tanah longsor dan salah satunya menyebabkan kereta api tergelincir. Ramalan cuaca mengeluarkan peringatan merah untuk wilayah pesisir dan memprediksi akan terjadi banjir dalam tiga hari mendatang.


Perubahan iklim dituding menjadi penyebab musim hujan tahun ini jadi lebih kuat ketimbang sebelumnya. Hal ini dilaporkan oleh Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim pada bulan April.


Perubahan iklim juga berpotensi untuk mengganggu suplai makanan, pertanian dan ekonomi yang mempengaruhi hampir seperlima dari populasi dunia. (*)


ADSEN KIRI KANAN