Notification

×

mgid Bawah Bapenda

Adsen

Rudal Israel Tewaskan Pria Disabilitas Gaza, Istri dan Anak

Kamis, 20 Mei 2021 | 10:30 WIB Last Updated 2021-05-20T03:30:00Z

  

Ilustrasi. (AFP/Anas Baba)

Jakarta - Serangan rudal Israel menewaskan seorang pria penyandang disabilitas di Jalur Gaza, istrinya yang sedang hamil, dan satu putri mereka pada Rabu (19/5).


Pihak berwenang di Jalur Gaza mengatakan bahwa pria bernama Eyad Saleha itu sedang menanti santapan siangnya ketika rudal Israel tiba-tiba jatuh di atas rumahnya.


Sebagaimana dikutip CNNidonesia.com, seketika, rumahnya rata dengan tanah, meninggalkan rongsokan sepeda merah anaknya di halaman depan. Di atas lemari pendinginnya yang hancur, terlihat tomat segar berbalut debu abu-abu.


Jasad istri Saleha, Amani, dan putrinya yang masih berusia tiga tahun, Nagham, tergeletak di salah satu sudut rumah.


Saudara laki-laki Saleha, Omar, tak rela kerabatnya itu meninggal dunia akibat rudal Israel. Menurutnya, Saleha sama sekali tak bersalah karena ia bukanlah pejuang, mengingat abangnya itu sudah tak bisa berjalan sejak usia 14 tahun.


"Apa salah abang saya? Dia hanya duduk di atas kursi roda. Apa pula salah putrinya? Apa salah istrinya?" ujar Omar kepada AFP.

"Mereka hanya bersiap makan siang."


Omar kemudian bercerita bahwa ia dan Saleha tak punya pekerjaan. Layaknya kebanyakan warga di daerah pesisir, mereka hidup mengandalkan bantuan dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina.


Mereka berbagi tempat tinggal bersama ibu dan tiga saudara. Saat serangan terjadi, ibu mereka, Umm Eyad, sedang mengungsi ke rumah abangnya yang ia anggap lebih aman.


Umm terpukul mendengar kabar kematian putra dan keluarganya. Menurutnya, Saleh merupakan orang yang tulus dan selalu berdoa agar situasi cepat membaik.


"Dia selalu berdoa agar situasi cepat tenang. Dia meninggal ketika sedang menunggu kelahiran anaknya," kata Umm.


Tak hanya keluarga Saleha, Wakil Menteri Kesehatan Palestina, Yousef Abu al-Rish, juga terpukul mendengar kabar ini.


"Membunuh warga tak bersalah di rumahnya, bahkan bayinya yang belum lahir di rahim ibunya, merupakan sebuah kejahatan," tutur al-Rish.


Ia pun meminta dunia untuk membantu mencari cara meredakan situasi. Saat ini, serangan udara Israel sudah menewaskan 227 orang di Jalur Gaza, 64 di antaranya merupakan anak-anak. Sementara itu, 12 orang di Israel tewas akibat roket Hamas.


"Berapa nyawa lagi yang harus melayang hingga dunia sadar?" kata al-Rish. (*)


ADSEN KIRI KANAN