Notification

×

mgid Bawah Bapenda

Adsen

Pasokan BBM AS Kembali Normal, Harga Minyak Dunia Naik

Sabtu, 15 Mei 2021 | 13:26 WIB Last Updated 2021-05-15T06:26:24Z

ilustrasi


Jakarta, fajarharapan.id - Harga minyak naik pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu (15/5/2021). Harga minyak naik membalikkan beberapa penurunan tajam hari sebelumnya. Namun, kenaikan harga dibatasi oleh situasi virus corona di konsumen minyak utama India.


Colonial Pipeline mengatakan pada Kamis (13/5/2021) malam telah memulai kembali seluruh sistem pipa dan telah memulai pengiriman di semua pasarnya. Jalur tersebut adalah saluran utama dari kilang-kilang Teluk ke Pantai Timur AS. Diketahui, perusahaan Colonialsempat menghentikan distribusi minyak karena ada serangan ransomware.


"Minyak naik karena pasokan bergerak lagi, baik melalui pipa atau sungai Mississippi," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago sebagaimana dikutip pada republika.co.id.


Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni bertambah 1,55 dolar AS menjadi menetap di 65,37 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik 1,66 dolar menjadi ditutup pada 68,71 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.


"Yang membuat heboh adalah kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang kasus COVID di India," ucap dia.


Ibu kota AS kehabisan bensin pada Jumat (14/5/2021) meskipun jaringan pipa mulai beroperasi kembali. Pemadaman pompa bensin di Washington, DC, naik menjadi 87 persen, dari 79 persen sehari sebelumnya, kata perusahaan pelacak GasBuddy.


Harga minyak berada di bawah tekanan minggu ini dari melonjaknya kasus virus corona di India. Ada kekhawatiran bahwa varian yang sangat mudah menular yang pertama kali terdeteksi di sana menyebar ke negara lain.


India pada Jumat (14/5/2021) melaporkan 343.144 kasus baru virus corona, membuat penghitungan keseluruhannya melewati angka 24 juta. Sementara kematian akibat Covid-19 naik 4.000.


"Kegagalan Brent untuk melebihi 70 dolar AS tampaknya telah memicu penjualan oleh pelaku pasar spekulatif, terutama karena pengoperasian Colonial Pipeline sedang digenjot lagi di AS," kata Commerzbank. (*)


ADSEN KIRI KANAN