Notification

×

mgid Bawah Bapenda

Adsen

Merawat Tradisi Masyarakat Lombok Ziarah Kubur pada Malam Lebaran

Kamis, 13 Mei 2021 | 10:20 WIB Last Updated 2021-05-13T03:20:54Z
Ziarah ke kubur pada malam


NTB, fajarharapan.id - Gema takbir, tahlil, dan tahmid terdengar di setiap masjid di penjuru negeri pada malam Lebaran, Kamis 1 syawal 1442 H bertepatan dengan (13/05) malam, ummat muslim menyambutnya dengan penuh suka cita. 


"Tradisi yang mungkin tidak ditemukan di tempat-tempat lain," ujar Hj.Aisah dan H.Rizal kepada wartawan fajarharapan.id saat ditemui di pemakaman Kampung Pengendong, Praya, NTB. 


Pada malam itu warga kampung dan perkotaan di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, secara turun-temurun dari sejak nenek moyang dahulu selalu dilestarikan, yakni ziarah kubur tengah malam pada malam hari hingga subuh menjelang Shalat Idul Fitri. 


"Dari segala arah masyarakat berduyun-duyun menuju kubur untuk memberikan syafaat kepada keluarga yang sudah meninggal dunia. Silih berganti masyarakat keluar masuk kuburan, yang duluan datang dan selesai berdzikir, yasinan, langsung pulang dan diganti dengan yang belakangan datang, begitu terus sampai setelah subuh. "


Ziarah kubur ini sekaligus menjadi moment silaturrahmi, karena masyarakat di hampir setiap kampung bertemu di sana. Ketika berpapasan atau beriringan pulang mereka akan bersalam-salaman, sebab bisa jadi besok lusanya tidak ada waktu untuk bertemu. 


Ditempat terpisah daerah Desa Sepit, Lombok Timur, Salah seorang tokoh masyarakat setempat Husen Al Azhari menuturkan ke fajarharapan.id bahwa ziarah kubur tengah malam di malam lebaran memang sudah menjadi tradisi yang ditinggalkan oleh nenek moyang dahulu. 


Kepercayaan nenek moyang dahulu lanjut Husen bahwa arwah keluarga yang meninggal, sejak awal puasa pulang ke rumah. Sehingga di moment malam lebaran itu mereka mengantar arwah itu pulang kembali ke kuburnya sembari diberikan syafaat dengan berdzikir.


"Karena sudah menjadi kepercayaan, masyarakat akan merasa tenang kalau sudah pergi ke kubur, karena sudah mengantar arwah keluarganya dan meninggalkan bekal dengan memberikan syafaat," ujar Husen. 


Untuk menjaga nuansa dahulu, masyarakat membuat obor sebagai penerang jalan menuju kuburan sampai pulang, meskipun sudah ada lampu sorot yang sinarnya lebih terang. 


Setelah pulang dari kubur biasanya langsung menuju masjid untuk melakukan shalat subuh secara berjama'ah. Selepas itu, lalu pulang mandi, dan kembali lagi ke masjid untuk mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid sampai waktu shalat Idul Fitri dimulai. (Hen/Hardi)

ADSEN KIRI KANAN