Notification

×

MGID ATAS

Adsen

KPAI Soroti Kasus-kasus Anak Meregang Nyawa Saat Berwisata

Senin, 17 Mei 2021 | 07:35 WIB Last Updated 2021-05-17T01:16:32Z

Komisioner KPAI Dr. Jasra Putra, M.Pd.

JAKARTA, fajarharapan.id
- Banyak anak yang meregang nyawa, karena tertimpa malapetaka dan bencana, saat berwisata bersama orang dewasa, memanfaatkan momen lebaran Idul Fitri tahun 1442 H yang berlangsung di tengah pandemi kali ini.


‘’Banyak laporan yang masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), anak-anak menjadi korban rileksasi liburan lebaran kali ini di tempat wisata, perjalanan pulang kampung, dan kegiatan lainnya,’’ ujar Komisioner KPAI Dr. Jasra Putra, Senin (17/5), di Jakarta.


Jasra dimintai komentar, terkait tewasnya anak berusia tujuh hingga sepuluh tahun terseret ombak Samudra Hindia di Batahan, Mandailing Natal (Madina), daerah tetangga terdekat Pasbar yang sebelum pandemi juga banyak dikunjungi wisatawan daerah-daerah terdekat Pasbar tersebut.


Ironisnya, ketika keempat anak itu terseret ombak, para orang tua malah sedang asik berteduh di bawah-bawah pohon di sekitar pantai, sehingga patut diduga abai terhadap musibah yang melanda putra putri mereka. Ironisnya lagi, pemerintah desa setempat sudah menyampaikan larangan kepada warga agar tidak berkunjung ke pantai yang dikenal berombak besar itu.


Petaka lebaran Madina itu terjadi di Pantai Tompek, Desa Kubangan Tompek, Kecamatan Batahan, Sabtu (15/5) sekitar pukul 14.50 WIB yang menelan korban meninggal dunia atas nama Aizan Juanda Dwi Santoso (7 tahun), Pakaris Halawa (7), Kelsin Bulele (10), dan Karis Halawa (9). Keempatnya berasal dari Kecamatan Sinunukan.


‘’Selain dari Batahan, kami juga menerima laporan anak-anak yang cedera dan meninggal dunia di tempat wisaata selama berlebaran, mulai dari kebun binatang sampai ke pantai, puncak, danau, ngarai, dan tempat terbuka lainnya. Di Kedung Omba, ada 20 korban anak akibat perahu terbalik,’’ tegasnya.


Selain musibah akibat bencana itu, dalam beberapa hari ke depan menurut Jasta, KPAI justru amat mengkhawatirkan, jumlah anak terpapar Covid-19 akan meningkat, sekembalinya mereka menikmati relaksasi dan berlebaran di tempat-tempat wisata yang ramai dikunjungi.


Dikatakan, pihaknya juga mencermati berita dari media-media terpecaya tentang anak-anak yang menjadi korban dan meninggal dunia selama muslim liburan ini. Banyaknya korban, kata dia, menjadi pertanda  isu anak-anak selama liburan di tempat wisata, masih belum menjadi bagian penting yang harus jadi perhatian para orang tua.


Selain anak-anak yang cedera dan meninggal dunia saat berwisata bersama orang tua mereka, menurut Jastra, KPAI juga menerima laporan dalam jumlah yang cukup banyak terkait anak hilang saat berada di objek wisata, kendati kemudian berhasil ditemukan.


‘’Dari sini ke atas perlu jadi perhatian bersama, terutama bagi orang-orang dewasa dan orangtua sang anak, anak-anak yang yang diajak berliburan ke tempat-tempat wisata harus mendapat perlindungan ekstra. Jangan sampai karena keasyikan berwisata, anak-anak malah terabaikan dan menjadi celaka,’’ tegas tokoh muda asal Pasbar tersebut.


‘’Seharusnya peristiwa Batahan Madina dan Kedung Ombo Boyolali itu tidak terjadi, jika orangtua tidak abai. KPAI akan berupaya mendesak agar penelolaan wahana rekreasi menjadi ramah anak,’’ tuturnya.(*)

ADSEN KIRI KANAN