Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Jangan Sampai Terjadi, Anak-anak Korban Mudik yang Dilarang

Selasa, 04 Mei 2021 | 11:04 WIB Last Updated 2021-05-04T04:04:30Z

Komisioner KPAI Dr. Jasra Putra, M.Pd.

JAKARTA, fajarharapan.id
-- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan, anak-anak jangan sampai menjadi korban akibat kegiatan mudik yang dilarang, pada 6-17 Mei 2021, dalam rangka membatasi penyebaran Covid-19


Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi KPAI Dr. Jasra Putra, M.Pd., menyatakan, meski larangan mudik telah di sosialisasikan dengan baik, namun tidak mengurungkan sebagian keluarga untuk tetap mudik dengan mengikuti persyaratan yang ada. Masyarakat juga banyak yang memanfaatkan waktu lebih awal untuk mudik sebelum dilarang. 


''Kebijakan larangan ditujukan untuk menyelamatkan semua. Kemungkinan pelanggaran yang dapat menempatkan anak-anak dalam situasi tidak nyaman, karena perjalanan panjang. Belum lagi mudik antarkota yang berjarak dekat, tentu akan menjadi tantangan tersendiri untuk petugas dalam mengingatkan pemudik antar kota dan pemudik lokal,'' ujarnya kepada fajarharapan.id menggunakan media dalam jaringan (daring).


Jasra mengingatkan, karena ini hari terakhir sebelum berlaku larangan mudik, ia khawatir akan banyak pemudik yang merencanakan perjalanan. Apalagi kebijakan transportasi seperti kereta yang menjadi favorit transportasi murah, membatasi perjalanannya. Maka berpotensi pemudik menggunakan alternatif transportasi, salah satunya motor. 


Meski larangan mudik dengan motor sudah sering disosialisasikan, namun kemungkinannya akan tetap ada. Kalau dulu, sebutnya, ada mudik gratis yang memberi fasilitas pemudik motor agar tidak kelelahan di jalan, namun dengan kebijakan larangan, dengan perjalanan panjang tanpa istirahat, kemudian kebiasaan menempatkan anak-anak duduk di depan atau di dekap sepanjang perjalanan, tentu berpotensi membahayakan anak-anak. 


Begitupun di tempat tujuan, juga ada karantina atau isolasi mandiri. Bahkan beberapa menyediakan tempat angker, agar calon pemudik berfikir ulang. Namun di sisi lain, bila di sana ada bayi dan anak-anak, perlu menjadi perhatian khusus. Agar niat memberikan tempat, jangan sampai berdampak psikologis dan fisik pada bayi dan anak-anak.


''Situasi pandemi ini, juga berpotensi anak-anak tidak ikut arus balik orang tuanya. Karena berbagai pertimbangan, terutama faktor ekonomi yang dapat berdampak sistemik pada kehidupannya. Untuk itu pertimbangan anak-anak tetap di kampung dan bisa menjalani sekolah online, akan menjadikan anak-anak tertunda ikut pulang. Untuk itu konsep merdeka belajar punya tantangan, untuk menekan angka putus sekolah,'' kata tokoh muda berskala nasional asal Pasaman Barat itu. 


Memang berbagai pilihan orang tua tidak mudah, ujarnya terutama yang menjadi buruh di perkotaan. Dalam menghadapi menurunnya perekonomian, setelah bertahan selama dua tahun pandemi. Untuk itu, tegasnya, kontrol masyarakat menjadi hal penting, dalam mencegah bersama hal yang lebih buruk lagi. 


Berbagai stimulan pemerintah dan swasta perlu terus terkonsolidasi, menurut Jasra, terutama menghadapi liburan lebaran yang sebentar lagi. Beragam hiburan di ruang keluarga dapat menjadi alternatif, agar lebaran kali ini, meski dari rumah, namun anak-anak tetap cerita.


''Berbagai cara pencegahan agar keluarga dan anak anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan nyaman, harus mulai difikirkan orang tua. Begitupun mereka yang mudik dan menjalani isolasi mandiri (isoman) serta karantina. Semoga banyak industri hiburan yang bisa membantu para orang tua menjaga anak-anak di rumah selama liburan lebaran nanti,'' katanya.(*)

ADSEN KIRI KANAN