Notification

×

adsense-BAWAH-HEADER

Iklan

FSGI Nilai Kebijakan Pendidikan saat Pandemi

Minggu, 02 Mei 2021 | 13:53 WIB Last Updated 2021-05-02T06:53:51Z

 

Federasi Serikat Guru Indonesia menilai sejumlah kebijakan yang dikeluarkan Kemendikbudristek saat pandemi belum optimal mengatasi krisis di bidang pendidikan. (CNN Indonesia)

Jakarta - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menilai sejumlah kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) saat pandemi Covid-19 belum optimal dalam mengatasi krisis di bidang pendidikan.

"Kemendikbudristek seperti kehabisan akal untuk menghadapi kendala belajar dari rumah (BDR) atau Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) selama masa pandemi COVID-19, meskipun serangkaian kebijakan telah dibuat, tapi hingga April 2021 tampaknya belum menunjukkan hasil sebagaimana diharapkan," kata Sekjen FSGI Heru Purnomo, seperti dikutip Antara.

Sebagaimana dikutip cnnindonesia.com, "Justru angka putus sekolah bertambah dan peserta didik dari keluarga miskin nyaris tak terlayani karena ketiadaan alat daring."

Menurut Heru, kekeliruan dari awal adalah Kemendikbudristek menjadikan BDR menjadi PJJ daring yang bertumpu pada internet, padahal disparitas digital sangat lebar antardaerah di Indonesia.

Selanjutnya, dia mengatakan program BDR tidak efektif karena terlalu bertumpu kepada internet sehingga kebijakan yang dibuat adalah pemberian bantuan kuota pada pendidik dan peserta didik. Namun, pemberian bantuan kuota itu disebutnya tidak disertai dengan pemetaan kebutuhan kuota yang beragam.

Selain itu peserta didik dari keluarga miskin yang tidak memiliki gawai dan wilayah yang tidak tersentuh jaringan internet tidak dapat menikmati bantuan kuota internet dan mereka tetap tidak terlayani PJJ.

Lebih lanjut, Heru mengatakan bahwa kegagalan dalam menangani dampak buruk BDR atau PJJ justru melakukan relaksasi SKB 4 Menteri yang akan membuka sekolah tatap muka serentak pada Juli 2021 di tengah pandemi Covid-19 yang belum mampu dikendalikan oleh pemerintah.

"Seolah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) adalah cara ampuh mengatasi permasalahan pendidikan pada masa pandemi," katanya.

"Padahal ini hanya "kemalasan berpikir mencari terobosan lain" dan dapat menimbulkan permasalahan lain, misalnya ledakan kasus Covid-19 jika pembukaan sekolah tidak disertai kesiapan dan perlindungan berlapis untuk peserta didik dan pendidik. Sudah banyak kasus covid setelah satuan pendidikan menggelar PTM," lanjutnya

FSGI kemudian menilai kebijakan pendidikan yang dibuat untuk mengatasi PJJ kurang berhasil karena hanya bersifat umum dan cenderung menyeragamkan tanpa melihat kesenjangan yang begitu lebar dan tidak memanfaatkan potensi yang dimiliki daerah yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kebuntuan PJJ secara daring.

"Peran kepala sekolah dalam mengatasi PJJ tidak mampu mengelola sekolah secara khas sesuai kondisi masing-masing. Jadi para guru yang kebingungan dalam melayani PJJ tidak mendapatkan bantuan, dukungan dan solusi dari Kepala Sekolahnya," kata Mansur, Wasekjen FSGI. (*)