Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Empat Tersangka Pembunuh Anak di Temanggung Ditangkap

Selasa, 18 Mei 2021 | 22:25 WIB Last Updated 2021-05-18T15:25:14Z

  

Empat tersangka pembunuh anak di Temanggung telah ditangkap. Ilustrasi (Istockphoto/D-Keine)

Jakarta - Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi mengatakan telah menangkap empat tersangka pembunuhan anak di Desa Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ditangkap.


Empat tersangka itu di antaranya M yang merupakan ayah korban, S ibu kandung korban, serta H dan B.


Sebagaimana dikutip CNNIndonesia.com, "untuk saksi-saksi kebanyakan dari Desa Bejen, dan penyidik sedang melakukan kegiatan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara lebih tuntas, mudah-mudahan nanti ada perkembangan lebih lanjut," kata Benny dikutip Antara, Selasa (18/5).


Mereka dijerat Pasal 76 huruf C dan Pasal 80 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.


Kemudian subsidair Pasal 44 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun atau denda Rp3 miliar.


Sebelumnya, seorang bocah 7 tahun berinisial ALH ditenggelamkan di bak mandi hingga meninggal oleh kedua orang tuanya karena dianggap nakal dan juga titisan makhluk mitologi Genderuwo.


Peristiwa itu terungkap usai jenazah ALH ditemukan di rumahnya, Dusun Paponan RT 2/RW 3 Desa Bejen Kecamatan Bejen Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.


ALH diketahui meninggal sejak Januari. Semula, polisi hanya menetapkan dua tersangka yaitu M (42) dan S (38), yang merupakan orang tua korban.


Benny mengatakan mayat ALH ditemukan pada Minggu (16/5) pukul 23.00 WIB, usai Polsek Bejen mendapat laporan dari warga dan Kepala Desa Bejen.


"Petugas Polsek lantas mendatangi lokasi, kemudian menemukan mayat anak perempuan di dalam kamar," katanya, Senin (17/5).


Temuan ini sendiri bermula dari kedatangan paman dan bibi dari ALH yang mencarinya di rumah orang tuanya.


M dan S mengklaim korban sedang berada di rumah kakeknya di Dusun Silengkung, Desa Congkrang Temanggung. Namun saat dicek, korban tak ada di sana. Sang paman dan bibi korban pun curiga.


Kecurigaan keduanya langsung disampaikan ke ayah korban. M akhirnya menunjukkan keberadaan korban di dalam kamar rumah dalam kondisi tak bernyawa tinggal tulang dan kulit yang kering di atas tempat tidur.


M menyebut aksinya itu dilakukan lantaran ia menganggap anaknya keturunan Genderuwo.


"Dari terawangan Pak H, anak saya ada turunan Genderuwo, makanya nakal. Jadi untuk menghilangkan aura itu," jelas M, saat diperiksa di Polres Temanggung.


"Kata H, nanti 4 bulan akan sadar bangun sendiri dan pasti sudah berubah tidak nakal lagi," lanjutnya.


M mengakui ritual tersebut dilakukan pada bulan Januari. Setiap dua kali seminggu mereka selalu membersihkan jasad anaknya agar tidak ada bau menyengat.


"Saya bersihkan sama istri saya. Seminggu dua kali. Itu kejadian Januari kok, Pak", kata M. (*)


ADSEN KIRI KANAN