Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Bocah Palestina Tangisi Kakak yang Ditangkap Polisi Israel

Selasa, 25 Mei 2021 | 15:23 WIB Last Updated 2021-05-25T09:05:05Z

 

Ilustrasi polisi Israel. (REUTERS/AMMAR AWAD)

Jakarta - Seorang bocah perempuan Palestina menangis saat melihat kakak lelakinya ditangkap di sekitar Beit Hanina, Yerusalem Timur atas tuduhan melempar batu ke permukiman Israel.


Gadis kecil itu merengek sembari bernegosiasi dengan polisi Israel agar kakaknya dibebaskan. Sementara sang kakak, duduk di mobil dan menatap nanar kejadian tersebut.


Video penangkapan itu diunggah oleh Direktur Eksekutif, Institut Kebijakan Publik untuk Palestina, Salem Barahmeh di media sosial dan memicu kemarahan publik, dikutip cnnindonesia.com.


"Polisi Israel menangkap bocah Palestina berusia 10 tahun di Yerusalem dan adiknya menangis meminta agar kakaknya dibebaskan," tulis Barahmeh di Twitter, Senin (24/5).


Mengutip The Intercept, seorang peneliti dari kelompok hak asasi manusia, Defence for Children International (DCI) Palestina melaporkan anak berusia 11 tahun itu dituduh oleh pemukim Israel melempar batu ke permukiman. Dia kemudian dibebaskan.


Lebih dari 1.500 orang dilaporkan telah ditangkap kepolisian Israel selama dua pekan terakhir. Penangkapan itu dilakukan sebagai upaya untuk meredam protes. Mereka juga dicurigai terlibat dalam kerusuhan baru-baru ini.


Dari jumlah itu, setidaknya ada 74 warga Palestina ditahan kepolisian Israel dengan dalih "Operasi Hukum dan Ketertiban" pada Senin (24/5) sore.


Juru Bicara Kepolisian Israel Micky Rosenfeld mengatakan kepada New York Times bahwa sebagian besar yang ditangkap adalah warga Palestina.


Beberapa lainnya warga Yahudi sayap kiri Israel yang turut melakukan protes bersama. Sejauh ini ada 116 dakwaan pertama terhadap warga Palestina.


Pada Senin malam Kepolisian Israel mengumumkan akan melakukan penangkapan massal terhadap warga Palestina di Israel yang terlibat dalam aksi unjuk rasa. Pihak berwenang menganggap aksi itu menyebabkan kerusuhan.


Sebelumnya, warga Palestina di Israel menggelar aksi protes sebelum pertempuran di Gaza meletus. Aksi itu sebagai bentuk solidaritas terhadap keluarga Palestina yang terancam tergusur dari rumah mereka di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.


Gelombang penangkapan warga Palestina di Israel disertai dengan brutalitas dan rasisme dari kepolisian Israel.


Mengutip New York Times, Micky Rosenfeld mengatakan saat itu terlalu banyak insiden terjadi secara bersamaan dan tidak mungkin menempatkan petugas di setiap pintu.


Pemerintah memanggil ratusan petugas polisi perbatasan dari Tepi Barat untuk mengamankan lokasi.


Kelompok hak asasi manusia menyebut rencana penangkapan massal warga Palestina mencapai 500 orang. Mereka menghadapi beragam tuduhan mulai dari serangan terhadap polisi, vandalisme hingga penghasutan online.


"Pasukan dan polisi Israel tengah melakukan penangkapan massal di Lydd, dan kota-kota Palestina lainnya sebagai upaya untuk 'menyamakan kedudukan' dengan orang-orang Palestina yang vokal menentang pembersihan etnis mereka," ujar penulis Palestina, Mariam Barghouti, merujuk pada sebuah video penangkapan dua pria dengan menutup matanya.


"Inilah yang kami peringatkan. Israel akan menargetkan kami semua ketika Anda berhenti mencari," ucap dia.


Sementara itu, Direktur Jenderal Adalah, Pusat Hukum Hak Minoritas Arab di Israel, Hassan Jabareen, menyebut penangkapan itu sebagai perang militer terhadap warga Palestina di Israel.


"Ini adalah perang melawan demonstran Palestina, aktivis politik, dan anak di bawah umur, yang mempekerjakan pasukan polisi Israel besar-besaran untuk menyerang rumah warga Palestina," ujarnya.


Senada, seorang analis dari International Crisis Group, Tareq Baconi membela warga Palestina yang ada di Israel.


"Mengingatkan kami bahwa (warga Palestina) di Israel juga memerangi sistem militer yang menindas mereka. Israel telah merilis kampanye penangkapan massal bagi mereka yang ikut aksi selama dua minggu terakhir," kata Baconi.


"Tidak ada penangkapan serupa untuk warga Yahudi, kekerasan mereka disetujui negara," kata dia.


Di hari yang sama, warga Palestina berusia 17 tahun, Zuhdi Muhannad Zuhdi al-Tawil dituduh menusuk seorang tentara Israel dan warga sipil menggunakan pisau.


Remaja itu kemudian dibunuh oleh anggota polisi Israel di perbatasan Yerusalem.


Video yang dirilis polisi, dan rekaman tambahan dari saksi menunjukkan insiden itu merupakan pembunuhan di luar hukum, demikian kata CID Palestina.


Pasukan Israel juga diduga melepas tembakan sebanyak tiga kali, setelah tersangka Zuhdi terkapar tak berdaya di tanah. (*)



ADSEN KIRI KANAN