Notification

×

mgid Bawah Bapenda

Adsen

WHO: Virus Covid 19 Kemungkinan Disebabkan dari Hewan

Selasa, 30 Maret 2021 | 07:45 WIB Last Updated 2021-03-30T00:45:46Z
WHO


Jakarta, fajarharapan.id - Hasil penelitian bersama antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Cina menyimpulkan virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 bersumber dari hewan. Kantor berita Associated Press atau AP berhasil memperoleh salinan draf tentang hasil studi bersama WHO dan Cina, yang akan dipublikasikan Selasa (30/3/2021).


Di dalam laporan dijelaskan, skenario paling mungkin terkait rantai penyebaran adalah virus dibawa kelelawar, kemudian ditularkan ke manusia lewat hewan lain. Dengan demikian, dugaan atau asumsi tentang kebocoran laboratorium sebagai penyebab munculnya virus tersisihkan. Tim mengusulkan penelitian lebih lanjut di setiap kemungkinan kecuali soal hipotesis kebocoran laboratorium.


Para peneliti membuat daftar empat skenario kemungkinan. Mereka menyimpulkan bahwa penularan melalui hewan kedua sangat mungkin terjadi. Mereka mengevaluasi kemungkinan penyebaran langsung dari kelelawar ke manusia. Penyebaran melalui rantai pasokan makanan beku atau cold chain mungkin terjadi, tapi cukup mustahil.


Kerabat terdekat dari virus penyebab Covid-19 telah ditemukan pada kelelawar, yang diketahui membawa virus korona. Namun laporan tersebut mengatakan, jarak evolusioner antara virus kelelawar ini dan SARS-CoV-2 diperkirakan beberapa dekade. Hal itu menunjukkan adanya kaitan yang terputus.


Disebutkan bahwa virus yang sangat mirip telah ditemukan di trenggiling. Cerpelai dan kucing juga rentan terhadap virus Covid-19, yang menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi pembawa.


AP menerima salinan draf yang tampaknya mendekati final dari seorang diplomat di Jenewa pada Senin (29/3/2021). Masih belum jelas apakah laporan tersebut masih mungkin diubah sebelum dirilis. Ahli WHO yang memimpin misi ke Wuhan, Cina, Peter Ben Embarek mengatakan, laporan hasil penelitian telah diselesaikan dan sedang diperiksa kembali fakta-faktanya.


"Saya harapkan dalam beberapa hari ke depan seluruh proses itu sudah selesai dan bisa kita rilis ke publik," ujarnya pada Jumat (26/3/2021) lalu sebagaimana dikutip pada republika.co.id.


Laporan ini amat dinanti-nanti karena temuan tentang asal-usul virus bisa membantu para ilmuwan mencegah pandemi pada masa depan. Namun, laporan ini juga amat sensitif karena Cina selalu menampik dugaan bahwa Cina bertanggung jawab atas munculnya Covid-19.


Penundaan berulang-ulang publikasi laporan juga menimbulkan tanda tanya. Salah satu spekulasi yang beredar adalah dugaan Cina berupaya mengedit kesimpulan pada laporan ini.


“Kita tentu amat khawatir tentang metodologi dan proses hingga tersusunnya laporan itu, termasuk fakta bahwa pemerintahan di Beijing membantu penulisan laporan itu,” ujar Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam wawancara baru-baru ini.


Pada Senin, Cina menampik kritik tersebut. “AS telah berbicara tentang laporan tersebut. Dengan begitu, bukankah AS berupaya memberikan tekanan politis kepada anggota tim ahli WHO?” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Zhao Lijian.


Laporan WHO kali ini memang sebagian besar berasal dari hasil kunjungan tim ahli internasional WHO ke Wuhan, Cina. Wuhan menjadi tempat cikal bakal kasus pertama terdeteksi yaitu pada pertengahan Januari 2020 hingga pertengahan Februari 2020.  


Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengaku telah menerima laporan ini akhir pekan lalu. Ia juga mengatakan akan memaparkan laporan tersebut hari ini.


“Kami akan membacakan laporan dan mendiskusikannya, mencerna isinya dan memikirkan langkah selanjutkan bersama negara anggota (WHO),” kata Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa.


“Namun, seperti yang telah saya katakan, semua hipotesis ada di atas meja dan sejauh ini memerlukan penelitian yang lengkap dan lebih jauh,” katanya, sambal menolak pertanyaan apakah ada tekanan politis yang mempengaruhi laporan tersebut. (*)


ADSEN KIRI KANAN