Notification

×

adsense-BAWAH-HEADER

Iklan

Supervisi Kepala Sekolah dan Produktivitas Kerja Guru dan pada Era Pembelajaran Teradon

Minggu, 14 Maret 2021 | 16:32 WIB Last Updated 2021-03-14T10:26:07Z

Anisah mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan UNP


“Jika kita mengajar siswa hari ini seperti cara kita mengajar kemarin, berarti kita  merampok masa depan siswa”. Kutipan tersebut merupakan pendapat  John Dewey (1859--1952) yang dikenal sebagai pencetus pembelajaran aktif, tokoh filsafat pragmatisme, dan inovator di bidang pendidikan. Kutipan tersebut juga layak dijadikan pemicu  bagi guru-guru untuk berinovasi dalam mengelola pembelajaran sesuai dengan tuntutan perubahan sehingga tetap memiliki produktivitas kerja yang tinggi pada setiap situasi termasuk  pada masa kenormalan baru (new normal). Jika guru tidak produktif maka peserta didik juga tidak akan produktif. Hasil penelitian menggambarkan bahwa produktivitas kerja guru secara umum masih berada pada kategori cukup dengan capaian 73,42%. Angka ini menujukan masih perlu upaya peningkatan produktivitas kerja guru umumnya, dalam peaksanaan pembelajaran khususnya.

 

Pada masa kenormalan baru ini guru-guru dituntut melakukan inovasi dalam bentuk pembelajaran  daring (dalam jaringan). Secara umum, awalnya, para guru merasa terpaksa dan dipaksa untuk melaksanakan pembelajaran daring. Berbagai piranti pun secara kreatif digunakan, apa lagi pada umumnya sekolah belum memiliki wadah learning management system (LMS) yang lazim dikenal dengan elearning. Piranti yang paling populer adalah WhatsApp (WA) sehingga dibuatlah grup-grup WA (GWA) yang menghubungkan komunikasi guru—siswa. Apa pun wadahnya, apa pun kelemahanya, yang jelas pembelajaran daring dapat dilaksanakan.

 Kalau dicermati tuntutan perkembangan teknologi dan globalisasi, pembelajaran daring pada setiap level pendidikan  akan  menjadi suatu kebutuhan  meskipun proses pembelajaran secara luring (luar jaringan) atau tatap muka langsung antara guru dan peserta didik sudah bisa  dilaksanakan.  Dengan demikian, akan terciptalah pembelajaran secara terpadu antara luring dan daring. Pembelajaran seperti ini yang disebut pembelajaran teradon. Pembelajaran teradon merupakan penggabungan pembelajaran tatap muka  dengan pembelajaran yang menggunakan media teknologi online

Pembelajaran teradon di tingkat SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama) bukan lagi masalah trend tetapi keharusan. Ada empat hal positif yang dapat dicapai jika pembelajaran teradon dilaksanakan. Keempat hal positif tersebut adalah: (1) guru dituntut membuat materi ajar sebagai materi tambahan Buku Siswa, yang kelak dikirim via daring, misalnya GWA sebelum pembelajaran  luring dilaksanakan, (2) siswa dituntut untuk membaca materi, sekaligus mengembangkan kemampuan literasi digital, (3) siswa terlatih memanfaatkan GWA sebagai sarana pembelajaran, bukan sekedar media sosial atau bahkan sarana bermain game, serta (4) Pembelajaran  tidak lagi didominasi oleh ceramah guru tentang pengertian dan konsep-konsep karena siswa sudah membaca sehingga seyogianya didominasi oleh diskusi, sumbang-saran, dan praktik melakukan sesuatu sesuai dengan isi materi dan tujuan pembelajaran. Supaya guru-guru mampu menerapkan pembelajaran ini secara efektif dan effisien dan mengalami peningkatan secara berkelanjutan perlu dilakukan supervisi, terutama oleh kepala sekolah.

Tuntutan dikembangkannya pembelajaran teradon berdampak pada perlunya peningkatan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah. Sebab, berdasarkan hasil penelitian, ditemukan adanya pengaruh positif dan signifikan secara langsung dan tidak langsung melalui kepuasan dan komitmen kerja  pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut pengembangan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, pengembangan kelompok, dan pengembangan profesional, serta penelitian tindakan kelas, terhadap produktivitas kerja guru dengan kontribusi 3,6%. Temuan penelitian tentang pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah sudah berada pada kategori baik, namun baru 80,01%, artinya masih perlu peningkatan dan perbaikan. Temuan lain berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan adalah semakin tinggi komitmen guru terhadap sekolah, kegiatan pembelajaran, peserta didik, dan profesi, akan semakin tinggi pula produktivitas kerja guru.

Berdasarkan dua temuan tersebut, terkait dengan pelaksanaan supervisi untuk memastikan pembelajaran terselenggara dengan baik,  kepala sekolah hendaknya mengembangkan enam hal berikut.

Pertama, kepala sekolah mengembangkan komitmen guru-guru tentang urgensi pembelajaran teradon. Kepala sekolah harus mampu mengembangkan keyakinan guru-guru bahwa pembelajaran teradon itu merupakan kebutuhan dan tuntuan zaman sekarang, bukan sekedar mengikuti trend. Penyelenggaraan  pembelajaran teradon akan lebih baik, baik dilihat dari segi proses maupun hasil pembelajaran.

Kedua, kepala sekolah dan guru-guru menyusun kesepakatan tentang pola dan wadah yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran daring. Salah satu sarana yang umum adalah Google Classroom (GC) dan sarana minimal adalah WA melalui GWA. Selain itu, bahkan dapat dipadukan antara penggunaan GWA dengan GC.

Ketiga, kepala sekolah menyediakan tenaga ahli di bidang IT, misalnya berkaitan dengan pemanfaatan GC dan GWA. Secara umum, dapat dinyatakan bahwa pemanfaatan GC, apa lagi GWA, bukanlah hal yang rumit. Untuk itu, kepala sekolah dapat menugasi beberapa orang tenaga ahli untuk memberikan pelatihan sekaligus membantu kepala sekolah memantau pemanfaatan GC dan GWA tersebut.

Keempat, kepala sekolah menyelenggarakan pelatihan penggunaan GC dan GWA. Relevan dengan pernyataan sebelumnya, pemanfaatan GC dan GWA itu relatif sederhana. Oleh karena itu, pelatihan pun diyakini tidak membutuhkan banyak waktu dan dana.

Kelima, kepala sekolah beserta jajaran wakil melaksanakan pemantauan atas pelaksanaan pembelajaran teradon. Salah satu pola pemantauan yang sederhana adalah melalui pengadaan sesi khusus tentang pelaksanaan pembelajaran teradon setiap hari Senin atau rapat supervisi mingguan. Selain itu, jika fasilitas internet sudah ada, kepala sekolah juga dapat memfasilitasi adanya ruangan sederhana untuk memastikan pemanfaatan GC, misalnya, dapat dikembangkan secara layak. Guru-guru pengampu mapel yang terkait dengan teknologi informasi atau tenaga TI sekolah dapat ditempatkan sebagai tenaga piket.

Keenam, kepala sekolah menyelenggarakan pengevaluasian dan pemberian umpan balik atas pelaksanaan pembelajaran teradon. Salah satu teknik menarik, seperti dilaksanakan oleh UNP dalam mengevaluasi pendayagunaan elearning di kalangan dosen adalah dengan memberikan reward kepada guru-guru yang mampu menyelenggarakan pembelajaran teradon dengan baik. Selain itu, kepala sekolah juga memberikan peluang kepada guru-guru yang belum menyelenggarakan pembelajaran teradon dengan maksimal melalui pemberian latihan tambahan

Perubahan pola pembelajaran luring ke pembelajaran teradon juga akan mengubah pola dan kualitas supervisi pembelajaran. Supervisi yang sebelumnya dilaksanakan misalnya dengan melakukan kujungan  kelas ketika guru yang disupervisi menyelenggarakan PBM dapat dilakukan dengan mengecek penggunaan GWA atau GC. Selain itu, tentu saja kualitas supervisi oleh kepala sekolah, juga dipengaruhi oleh keterampilan kepala sekolah mendayagunakan teknologi informasi, misalnya GC atau Google Teams (GT).  Lebih dari itu, model kepemimpinan transformasional akan semakin positif jika kepala sekolah mampu mengubah energi sumber daya, baik manusia, instrumen, maupun situasi untuk mencapai tujuan. Teknologi informasi dan pembelajaran teradon adalah instrumen sekaligus situasi yang harus dimanfaatkan dan dikembangkan. Maka dari itu supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah harus berhasil membina guru-guru supaya mempunyai  produktivitas kerja yang tinggi dalam era  pembelajaran teradon tersebut.

(Anisah, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan UNP, Promotor : Prof. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. Ed.D., Co-Promotor: Prof. Dr. Rusdinal, M.Pd.)

 


adsense

×
Berita Terbaru Update