Notification

×

adsense

Iklan

Merawat Kebesaran Natal: Ada Multatuli, STA, dan Sjahrir

Senin, 15 Februari 2021 | 12:06 WIB Last Updated 2021-02-15T05:06:10Z

Pedagang ikan kering di Pasar Natal, terpaut jarak belasan meter dari pelabuhan.(musriadi musanif)

NATAL. Nama itu tak sering disebut orang. Bukan perayaan natal, tetapi nama sebuah bandar di sisi barat Sumatera. 


Dari kota kecil yang berstatus sebagai ibukota kecamatan tersebut, sebenarnya ada ribuan kisah yang tertoreh, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kebesarannya perlu terus dirawat. Di sini ada pelabuhan, Portugis, Belanda, Minangkabau, Mandahiling, dan orang hebat bernama Eduard Deuwwes Dekker alias Multatuli dan menjadi tanah leluhur Sutan Sjahrir; orang yang pertama menjadi perdana menteri di Indonesia. Ada pula pujangga besar Sutan Takdir Alisjahbana.


Soal kenapa kota pelabuhan itu dinamai Natal, hingga kini masih banyak cerita soal asal-usulnya yang masih diperdebatkan. Ada yang menyebut dari Bahasa Minangkabau; ranah nan data yang kemudian disingkat menjadi natar.


Ada pula yang menyebut, kawasan Natal itu pertama kali ditemukan orang Portugis. Otomatis, namanya pun mengacu pada penyebutan mereka pula. Karena orang-orang Portugis itu punya kesan mendalam tentang Pelabuhan Natal yang terletak di ujung bagian selatan Benua Afrika, maka mereka menyebut tempat baru tersebut dengan Natal pula.


Versi lain, pertama kali para pelaut Portugis itu merapat di Natal pada waktu bertepatan dengan Hari Natal. Tapi versi ini, banyak yang tidak dipercayai ilmuwan dan peneliti. Apalagi realitasnya sehari-hari, penduduk Natal sejak dahulu adalah beragama Islam.


Adik kandung pujangga besar Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang bernama Puti Balkis Alisjahbana, sebagaimana dikutip situs resmi Pemkab Madina, Natal merupakan kombinasi ungkapan singkat dalam Bahasa Mandailing dan minangkabau. Sutan Takdir Alisjahbana lahir di Natal pada 11 Februari 1908.


''Natal berasal dari dua ungkapan pendek, masing­ masing dalam bahasa Mandailing dan Minangkabau. Nattarida dalam Bahasa Mandahiling artinya yang tampak dari kaki Gunung Sorik Marapi di kawasan Mandahiling,'' jelasnya.


Terlepas dari adu argumentasi tentang fakta-fakta sejarah asal mula Natal, negeri ini memang menarik untuk dikunjungi. Melepas penat, menyegarkan suasana hati, dan menjemput kembali kebesaran sejarah bangsa.


Natal berbatasan langsung dengan Pasaman Barat. Bahasa sehari-hari masyarakatnya adalah Bahasa Melayu yang pengucapannya mirip dengan Bahasa Minangkabau pesisir. Banyak pula yang menggunakan Bahasa Mandahiling.


Dahulu, Natal itu terlalu jauh untuk dikunjungi. Akses transportasi darat satu-satunya hanya dari Jembatan Merah Panyabungan. Kondisi jalan yang jelek dan geografis pegunungan, membuat orang tidak nyaman naik kendaraan ke sana. Akses jalan raya dari Pasaman Barat, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah belum ada sama sekali.


Berlayar dari Airbangis atau Sibolga, menjadi solusi yang banyak jadi pilihan, ketika orang ingin berkunjung ke Natal pada waktu itu.


Kini Natal sudah terbuka. Setiap hari ada angkutan umum yang melayani penumpang dari Ujunggading (Pasaman), Bukittinggi dan Padang. Hal serupa juga tersedia dari Batangtoru dan Sibolga. Khusus untuk jalan lama dari Jembatan Merah Madina, kondisinya masih seperti dulu. Belum nyaman untuk dilintasi dengan sarana transportasi darat. Tapi terpaksa dilintasi, ketika orang dari Natal ingin mengunjungi pusat pemerintahan kabupaten di Panyabungan.


Natal terbuka ketika Jalan Lintas Barat Sumatra mulai dibentang, sejak dari Lampung, Bengkulu, Muko-muko, Padang, Pariaman, Tiku, Silaping, Simpang Gambir, Natal, Tabuyung, dan Singkuang, tembus ke Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sibolga, Barus, Tapak Tuan, hingga Banda Aceh. Itu pulalah sebabnya, Pasar Natal yang diramaikan setiap Selasa, kini kembali banyak didatangi saudagar dari berbagai daerah di utara Sumbar dan selatan Sumut.


Suasana ramainya pelabuhan kembali terasa. Kendati kapal-kapal yang sandar kini hanyalah milik nelayan, tidak lagi saudagar antar negara, sebagaimana pernah terjadi pada zaman penjajahan Belanda dahulu.


Penyisiran yang penulis lakukan, jalan lintas di pantai barat Sumatera masih terputus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Persisnya dari Singkuang di tapal batas Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hingga ke Kota Sibolga. Belum diperoleh informasi, apa penyebab jalan yang melintasi perkampungan nelayan di Batumundom itu belum juga dibangun.


Tapi ketahuilah! Pemandangan indah terhampar dalam bentuk pantai yang indah, perkebunan kelapa sawit, dan kebun karet. Ada juga Air Terjun Simatutung dan Danau Siais yang terkenal itu. Di jalur ini, kendaraan ramai lalu-lalang hanya ditemukan di sepanjang Pariaman hingga Ujunggading di Pasaman Barat. Selebihnya, sepi.


Bertolak dari Pariaman sekitar pukul 11.00 WIB, kami tiba di Natal pukul 18.00 WIB. Kami memutuskan untuk bermalam di sini. Ada beberapa penginapan yang terbilang cukup nyaman. Selain hotel kecil, ada juga mess Pemkab Madina dan Pemprov Sumut yang juga menerima tamu umum.


“Penginapan di sini umumnya penuh pada Senin malam, karena Selasa adalah hari pasar di Natal. Banyak pedagang yang berdatangan dari pedalaman Sumatera datang ke sini. Ada yang menjual dagangan, ada pula yang ingin membeli produksi laut dan hutan daerah sekitar Natal,” kata seorang petugas kepolisian yang ditemui di Mapolsek setempat.


Adalah benar, Natal hanya kota kecamatan. Tapi aktifitas perekonomian rakyat terbilang tinggi di sini. Banyak kapal-kapal nelayan yang berlabuh untuk menjual hasil tangkapan mereka. Ada juga yang menjual ikan yang sudah dikeringkan.


Selain aktifitas pelabuhan dan nelayan, Natal amat dikenal sebagai salah satu tempat persinggahan Eduard Douwwis Dekker alias Multatuli, seorang Belanda yang pada akhirnya memihak Indonesia. Di Natal ada seruas jalan bernama Jalan Multatuli. Di ruas jalan itu terdapat rumah bekas Multatuli tinggal. Ada pula sumur yang disebut masyarakat setempat dengan ‘sumur multatuli’.


Menurut beberapa referensi yang bisa ditelusuri melalui mesin pencari google, Douwis Dekker alias Multatuli itu tiba di Padang awal abad 18, namun kemudian Gubernur Sumbar Kolonel Andreas Victor Michiels mengirimnya ke Natal menjadi seorang kontroleur. Dia dikirim ke kota kecil itu karena dikenal memiliki reputasi buruk, yakni suka berjudi dan menempeleng orang.


Di Natal itulah, Eduard Douwes Dekker menunjukkan keberpihakannya terhadap pribumi dalam melawan penjajahan Belanda. Padahal pada waktu itu, dia masih berstatus sebagai pejabat kolonial Hindia Belanda.


Eduard Douwes Dekker ketika berada di Natal sempat menulis sebuah buku terkenal berjudul Losse Bladen uit het Dogbck van een ud Man (Halaman-halaman lepas dari buku harian seorang lelaki tua).


Selain Multatuli, di pelabuhan kecil bernama Natal ini juga terpaut nama seorang pahlawan nasional, yakni Sutan Syahrir.


Syahrir adalah Perdana Menteri Inonesia pertama yang merangkap Menteri Dalam dan Luar Negeri. Sutan Syahrir di lahirkan di Padang Panjang pada Maret 1909. Ayahnya bernama Mohammad Rasyad Maharajo Sutan berasal dari Kotogadang, tetapi ibunya asli puteri Natal, bernama Siti Rabiah.


Kebesaran Natal jangan sampai hilang ditelan zaman. Banyak bukti-bukti sejarah yang harus dilindungi di sini. Sejarah Indonesia, sejarah pelayaran nusantara, dan nostalgia umat manusia dari berbagai belahan dunia.(Penulis adalah traveller, instruktur jurnalistik, dan wartawan utama)

adsense

×
Berita Terbaru Update