Notification

×

adsense

Iklan

Babendi-bendi ka Padang Panjang

Minggu, 14 Februari 2021 | 06:58 WIB Last Updated 2021-02-14T00:05:24Z

Bule asal Belanda menggunakan bendi dari Padang Panjang menuju Ladang Laweh, Kecamatan Batipuah.(musriadi musanif)


PADANG PANJANG, fajarharapan.id
-- Transportasi publik terus berkembang. Model dan variasinya mengalami perubahan yang dengan cepat. Di penghujung tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an, masyarakat Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat, terbiasa menaiki bendi atau mikrolet, bila hendak berpergian ke berbagai tempat di dalam kota.


Tapi kemudian, revolusi transportasi rakyat pun terjadi. Kendaraan roda dua dengan mudah bisa dibeli masyarakat. Kuda besi itu pun menjadi barang wajib yang setia mendampingi rakyat, ketika mereka hendak berpergian. Kendaraan roda dua itu pun beralih fungsi, bila semula hanya angkutan pribadi dan keluarga, berubah menjadi angkutan sewa yang sanggup melayani penumpang hingga ke gang-gang tersempit. Namanya ojek.


Saat ini, bila Anda berkunjung ke Padang Panjang, di mana-mana hampir ditemukan adanya pangkalan ojek. Berjalan kaki di trotoar jalan-jalan utama pun, Anda akan mendapat tawaran untuk menumpang ojek tersebut.


Mikrolet yang biasanya melayani trayek dari Pasar Pusat Padang Panjang menuju Silaiang, Bukiksurungan, Kampuang Manggih, Gunuang, dan Koto Katiak mulai menepi. Hanya sebagian kecil saja yang masih beroperasi, melayani penumpang pulang/pergi dari Gunuang-Solok Batuang, Gantiang Bukiksurungan, dan Silaiang.


Itu pun kalau anak-anak bersekolah. Kalau sedang libur atau belajar dari rumah, mikrolet lebih banyak ngetem daripada jalan. Kendati sulit mendapat penumpang dalam jumlah yang tidak 'tekor', namun masih banyak juga yang beroperasi melayani kebutuhan transportasi masyarakat.


Lalu bagaimana dengan nasib bendi? Inilah masalahnya. Alih fungsi bendi mungkin terlambat, sehingga keberadaannya terus menyusut dari waktu ke waktu. Ketika hari pasar di Padang Panjang, Senin dan Jumat, beberapa unit bendi masih ditemukan menunggu calon penumpang di perempatan pasar tersebut. Padahal dahulu, di situ ada puluhan 'kereta kuda' yang mangkal.


Sejatinya, perkembangan ragam moda transportasi itu dapat disikapi dengan cepat, tidak tertutup kemungkinan, bendi tak menjadi barang langka saat ini. Salah satunya adalah dengan mengalihfungsikan bendi menjadi angkutan wisata Kota Padang Panjang.


Babendi-bendi dari Padang Panjang ka Ladang Laweh (menaiki bendi dari Padang Panjang ke Ladang Laweh). Ini sungguh pengalaman mengasyikkan. Apalagi di sepanjang jalan disuguhi pemandangan indah, berupa alam perbukitan, panorama Gunung Marapi dan Singgalang, serta hamparan sawah rakyat yang sedang menghijau,” komentar Ruben dan Meggie, dua wisatawan yang berprofesi sebagai guru di Amsterdam, Belanda, setahun silam.


Kekaguman ruben terhadap bendi juga dirasakan rekan-rekannya; Kiyara, Husen, Erix, Devylin, dan Lisa.


Informasi dari beberapa tetua di kawasan Padang Panjang dan Batipuah, di awal tahun 2000-an masih tercatat sekitar 350-an unit bendi yang beroperasi melayani penumpang. Pada tahun 2018 tinggal tiga unit. Kini? Sudah mulai langka dan sulit ditemukan.


Ups, masih ada! Salah satu yang masih beroperasi adalah bendi milik Can Sidi Batuah. Usianya kini 64 tahun, dan sudah menjadi kusir (pengendara) bendi sejak 40-an tahun silam. Ini adalah pekerjaan turun-temurun yang dilakoni sejak kecil, ketika usaha tersebut diwariskan orangtuanya yang juga kusir bendi.


Dalam wawancaranya yang siarkan Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kota Padang Panjang, Sidi mengaku, sebelum pandemi, dia memiliki tiga ekor kuda yang digunakan untuk penarik bendi, tapi kini tinggal satu, karena besarnya biaya makan dan perawatan kuda bila dioperasikan untuk menarik bendi.


''Sebelum Covid-19 menjadi pandemik, banyak jugalah wisatawan yang datang ke Padang Panjang dan menggunakan bendi untuk keliling kota. Tapi kini tak ada lagi. Roda bendi nyaris tak berputar sama sekali,'' ucapnya.


Kendati demikian, bendi yang pernah beroperasi dalam pembuatan film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck itu, tetap setia menunggu calon penumpangnya di perempatan pasar. Seperti biasa.


Untuk warga Padang Panjang yang memerlukan jasanya, dari pasar menuju rumah, dia mematok tarif terendah Rp15 ribu sekali jalan. Sedangkan wisatawan yang ingin mengunjungi tempat-tempat wisata tertentu di Kota Padang Panjang dan sekitarnya, Sidi juga bersedia melayani dengan tarif batas bawah Rp50 ribu sekali jalan. ''Soal ongkos menyesuaikan dengan tujuan dan waktu terpakai. Bisa dirundingkanlah,'' ucapnya.(*)

adsense

×
Berita Terbaru Update