Notification

×

adsense

Iklan

5 Tewas Akibat Ebola di Guinea

Selasa, 16 Februari 2021 | 06:23 WIB Last Updated 2021-02-15T23:23:07Z

Virus Ebola


Jakarta, fajarharapan.id - Lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat karena virus Ebola di Guinea. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun memperingatkan potensi wabah di kawasan Afrika Barat.


Sebelumnya, Guinea mengumumkan wabah tersebut pada hari Sabtu (13/2/2021), yang merupakan yang pertama di Afrika Barat sejak epidemi 2013-2016 yang menewaskan lebih dari 11.300 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.


Dikutip, laporan epidemiologi WHO tertanggal 15 Februari menyebutkan lima orang kini telah meninggal karena virus tersebut, bertambah satu dari jumlah yang dilaporkan sebelumnya.


Meski demikian, hanya satu dari korban yang dipastikan positif terkena Ebola. Sementara, empat sisanya terdaftar sebagai "kasus yang mungkin terjadi".


Selain itu, dua orang lainnya dinyatakan positif, sementara 10 orang lainnya menunjukkan gejala.


Korban pertama yang dikonfirmasi adalah seorang perawat berusia 51 tahun, yang meninggal pada akhir Januari. Dia berasal dari Nzerekore, dekat Kota Gouecke, di wilayah hutan bagian selatan negara itu.


Seorang pejabat yang enggan disebut namanya menyatakan dua saudara laki-laki perawat yang menghadiri pemakamannya pada 1 Februari juga meninggal.


Masih belum jelas identitas korban lainnya serta kemungkinan keterkaitannya dengan kehadiran mereka dalam pemakaman perawat itu.


Kantor PBB di Guinea berkicau bahwa penerbangan pertama yang membawa para ahli dan peralatan sanitasi tiba di Nzerekore pada Senin (15/2/2021).


Perdana Menteri Ibrahima Kassory Fofana mengatakan Guinea telah "membuat struktur untuk menangani jenis epidemi ini".


"Jangan panik, hormati instruksi sanitasi. Ebola akan dikalahkan lagi," kicaunya sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.


Sementara itu, pihak WHO menyebut ada risiko penyebaran wabah ini secara regional.


"Kami harus sangat waspada, sangat waspada", Mike Ryan, pakar darurat WHO, mengatakan pada jumpa pers, "Penyakit ini (Ebola) mewakili risiko regional".


Vaksinasi

Diketahui, Ebola menyebabkan demam parah, dan dalam kasus terburuk pendarahan tak terbendung. Virus ini ditularkan melalui kontak dekat lewat cairan tubuh. Orang yang tinggal bersama atau merawat pasien adalah pihak yang paling berisiko.


Pihak LSM, secara anonim mengatakan khawatir karena petugas kesehatan belum mengidentifikasi siapa yang menginfeksi perawat tersebut.


Alfred George Ki-Zerbo, perwakilan WHO di Guinea, mengatakan vaksin Ebola dapat tiba di negara miskin berpenduduk 13 juta itu "dalam 72 jam".


"Prioritas kami adalah menyelesaikan penilaian risiko di lapangan dan menganalisis dimensi lintas batas," katanya, merujuk pada daerah dekat perbatasan Liberia tempat virus muncul kembali.


Anja Wolz, koordinator Ebola untuk Doctors Without Borders, mengatakan LSM itu mengirimkan tim medis berpengalaman untuk bertemu dengan penduduk setempat dan menjelaskan perlunya mengikuti aturan kesehatan.


"Kami tahu bahwa ketika penyakit yang begitu menakutkan disalahpahami di masyarakat, dan individu tiba-tiba datang memberikan instruksi, dengan kostum yang menyerupai pakaian antariksa, itu dapat dengan mudah menimbulkan reaksi bermusuhan," katanya.


Terpisah, Petugas kesehatan di DR Kongo timur telah memulai program vaksinasi Ebola.


"Pihak berwenang hari ini meluncurkan kampanye vaksinasi anti-Ebola di Butembo hanya seminggu setelah virus muncul kembali," kata WHO dalam kicauannya.


"Pekerja di rumah sakit Matanda, tempat kasus positif pertama Ebola dirawat, adalah yang pertama divaksinasi," lanjut pernyataan itu.


Kantor WHO di Republik Demokratik Kongo mengatakan empat orang di Biene telah divaksinasi dan 334 kontak lainnya juga akan menerima suntikan itu.


Pada 18 November, DR Kongo menyatakan bahwa epidemi Ebola ke-11 yang terdokumentasi di negara itu telah berakhir. (*)


adsense

×
Berita Terbaru Update