Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Potensi Gempa Besar, BPBD Sumbar Waspadai Tsunami

Sabtu, 14 November 2020 | 13:00 WIB Last Updated 2020-11-14T06:00:05Z
ilustrasi



Padang, fajarharapan.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat menyebut para ahli memperingatkan potensi gempa bumi besar magnitudo 8,9 dari patahan Megathrust Mentawai. Karena itu BPBD mewaspadai bencana lanjutan dari gempa ini yakni tsunami hingga 10 meter di Kota Padang.


Hal ini diungkap Kepala Bidang PK BPBD Sumbar Syahrazad Jamil pada diskusi virtual terkait upaya pengurangan risiko bencana tsunami di Provinsi Sumbar.


Ia mengatakan hanya butuh waktu 30 menit untuk gelombang tsunami sampai di Kota Padang. 


"20 sampai 30 menit kemudian disusul gelombang tsunami di Kota Padang setinggi enam hingga 10 meter dengan jarak dua hingga lima kilometer," kata Jamil, Jumat (13/11/2020) sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.


Bencana alam tersebut diprediksi setidaknya berdampak pada 1,3 juta penduduk. Dengan menggunakan skenario terburuk, diperkirakan 39.321 jiwa meninggal dunia, 52.367 hilang dan 103.225 mengalami luka-luka.


"Pelabuhan Teluk Bayur dan Bandara Minangkabau hancur, itu prediksi para ahli," katanya.


Sebagaimana diketahui, ujar dia, Pulau Sumatera sudah mengalami beberapa kali bencana tsunami. Khusus di Sumbar, tsunami terjadi di Kepulauan Mentawai pada 25 Oktober 2010 dengan menelan korban jiwa hingga 408 orang.


Guna mewaspadai kemungkinan terburuk tersebut, Provinsi Sumbar melakukan berbagai upaya, di antaranya membangun kemitraan dan koordinasi bersama Non Government Organization (NGO) nasional maupun internasional termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).


Pemerintah Sumbar, lanjut dia, juga bekerja sama dalam pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan kelompok siaga bencana hingga tingkat desa atau kelurahan.


Selanjutnya, kerja sama dengan TNI dan Polri terus diperkuat dalam hal penanggulangan bencana termasuk dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta di provinsi tersebut.


Tidak hanya itu, program dan kegiatan pengurangan risiko bencana juga terus dikuatkan dengan membentuk satuan pendidikan aman bencana, kelompok siaga bencana, latihan evakuasi mandiri dan pembangunan sarana mitigasi serta evakuasi berupa shelter, peta jalur evakuasi, dan peringatan dini.


"Bantuan shelter yang kita bangun memberikan rasa aman bagi masyarakat. Apalagi, sejak kejadian gempa 2009 sudah menjamur bangunan seperti hotel yang memberikan rasa aman," katanya. (*)


×
Berita Terbaru Update