Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

RI Tembus 5 Besar Produsen Produk Halal

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 18:01 WIB Last Updated 2020-10-25T00:53:15Z
ilustrasi


Jakarta, fajarharapan.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia berhasil memperbaiki posisi dari peringkat 10 ke peringkat 5 besar negara produsen produk halal di dunia, tapi masih tertinggal dari Malaysia, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrian, dan Arab Saudi.


Peringkat negara produsen produk halal ini merujuk pada laporan The State of Global Islamic Economy Report 2019-2020.


Dalam laporan terbarunya, Indonesia naik peringkat dari 10 ke 5 dengan skor 49. Airlangga tidak mengungkapkan kriteria penilaian produsen halal ini apakah dilihat dari nilai produk atau transaksi perdagangan.


"Global Islamic Economy ini mengukur kekuatan ekonomi syariah 73 negara, Indonesia menempati peringkat kelima untuk 2019-2020. Ini di bawah Malaysia, Bahrain, UEA, dan Arab Saudi," ujar Airlangga di acara Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia yang diselenggarakan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sabtu (24/10).


Secara rinci, Malaysia berada di peringkat pertama dengan skor 111, UEA peringkat kedua berskor 79, Bahrain peringkat ketiga berskor 60, dan Arab Saudi peringkat keempat berskor 50,2.


Airlangga bilang berdasarkan laporan itu Indonesia unggul di sektor fesyen muslim.


"Industri tekstil cukup unggul, kita di nomor kedua, di bawah Turki, tapi di media dan rekreasi masih perlu kerja keras, demikian juga farmasi dan kosmetik. Wardah sudah dominasi pasar dalam negeri, tinggal strateginya dorong ke penguatan halal value chain," tuturnya.


Sementara untuk produk makanan dan minuman halal, Indonesia belum berada di peringkat 10 besar. Padahal di dalam negeri dan ekspor, sumbangan terbesar ekonomi halal berasal dari sektor ini, khususnya minyak kelapa sawit (CPO).


"Kami masih mengejar top 10 halal food. Begitu juga top muslim friendly travel, kita ranking tiga, di bawah UEA dan Turki," ucapnya.


Untuk itu, menurutnya, Indonesia perlu meningkatkan kinerja industri halal agar bisa menempatkan Indonesia sebagai produsen produk halal terbesar pada 2024. Target ini sejalan dengan besarnya potensi pasar produk halal di Indonesia maupun dunia.


Pasar Dalam Negeri yang Besar


Di dalam negeri, Airlangga bilang potensi pasar sangat besar karena 87 persen dari total populasi 267 juta jiwa merupakan penduduk muslim.


Di tingkat global, The State of Global Economy Report 2019-2020 memperkirakan potensi pasar produk halal akan meningkat dari US$2,2 triliun pada 2018 menjadi US$3,2 triliun pada 2024, atau setara Rp47.040 triliun.


Untuk mengejar potensi itu, Airlangga menyatakan pemerintah menelurkan beberapa kebijakan, mulai dari pembangunan kawasan industri halal, gratis sertifikasi halal bagi produk UMKM, dan lainnya.


"Ini semua diharapkan membangun hulu sampai hilir, sehingga bisa diekspor," imbuhnya.


Senada, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan kementeriannya telah membentuk peta jalan pembangunan kawasan industri halal selayaknya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).


Saat ini, ada dua kawasan industri halal yang sudah disetujui pemerintah, yaitu Modern Cikande Industrial Estate di Serang, Banten dan SAFE n LOCK Halal Industrial Park di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.


"Pemerintah tengah membentuk kawasan industri halal karena dinilai memberi efek luas bagi perekonomian, misalnya menarik investasi, memfasilitasi pelaku industri besar dan kecil, menambah penyerapan tenaga kerja," kata Agus pada kesempatan yang sama.


Pembangunan kawasan industri halal, sambungnya, dilakukan dengan penyiapan infrastruktur, laboratorium, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), kantor pengelola, hingga manajemen. Selain itu, turut dikembangkan standarisasi dari sertifikasi produk halal.


Pemerintah juga menyiapkan skema pembiayaan untuk kegiatan usaha halal, salah satunya melalui pemanfaatan lembaga jasa keuangan syariah.


"Rantai pasok industri halal kami integrasikan, dari hulu, produksi, distribusi, sampai ke tangan konsumen," tuturnya.


Semua ini mengejar potensi pasar produk halal ke depan. Khususnya, peningkatan pangsa di produk makanan dan minuman dari US$1,36 miliar pada 2018 menjadi US$1,97 miliar pada 2024.


"Hal tersebut tidak lepas dari peran penting investasi US$1,4 miliar yang diinvestasikan secara global pada perusahaan-perusahaan yang erat dengan produk halal," pungkasnya.


×
Berita Terbaru Update