Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rupiah Menguat Rp14.550 per Dolar AS

Rabu, 05 Agustus 2020 | 22:00 WIB Last Updated 2020-08-05T15:00:00Z
(ilustrasi)
Jakarta, fajarharapan.id - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.550 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (5/8/2020) sore. Mata uang Garuda menguat 0,51 persen bila dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp14.625 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.623 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi kemarin, yakni Rp14.697 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,04 persen, dolar Singapura menguat 0,19 persen, dolar Taiwan menguat 0,18 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,43 persen.

Kemudian, peso Filipina menguat 0,07 persen rupee India menguat 0,15 persen, yuan China menguat 0,38 persen, ringgit Malaysia menguat 0,47 persen, dan baht Thailand menguat 0,12 persen. Hanya dolar Hong Kong yang terpantau melemah 0,01persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif di hadapan dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,15 persen dan dolar Australia melemah 0,52 persen. Sebaliknya dolar Kanada menguat 0,36 persen dan franc Swiss menguat 0,30 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebut rupiah menguat pada perdagangan sore ini rupiah dan terus melanjutkan penguatannya hingga besok di kisaran Rp14.520-Rp14.580 per dolar AS karena data eksternal yang positif.

Menurut Ibrahim, penguatan rupiah juga turut dipengaruhi rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 oleh Badan Pusat Statistik.

Meski perekonomian sepanjang April-Juni lalu mencapai-5,32 persen atau jatuh lebih dalam dari ekspektasi pemerintah, namun kontraksi tersebut terbilang rendah ketimbang negara-negara lain baik di Uni Eropa, Amerika Serikat maupun negara di sebagian Asia.

"Sehingga, pasar kembali percaya diri dengan fiundamental perekonomian dalam negeri, sehingga Arus modal asing kembali membanjiri pasar dalam negeri," tutur Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

Sementara dari sisi eksternal, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh mandeknya pembahasan paket bantuan corona sebesar US$1 triliun di Kongres AS. 

Pada saat yang sama spekulasi bahwa kebuntuan mengenai pembahasan lebih fiskal di Washington dapat meninggalkan Bank Sentral AS The Federal Reserve dan menambah banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah di negeri Paman Sam sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

"Pemerintah dan bank sentral merespons perlambatan pertumbuhan dengan sejumlah besar stimulus. Gubernur Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan ekonomi AS membutuhkan lebih banyak dukungan daripada yang diperkirakan," tandasnya. (*)

×
Berita Terbaru Update