Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pemerintah Kucurkan Rp5 T ke Bio Farma untuk Vaksin Covid 19

Kamis, 13 Agustus 2020 | 09:00 WIB Last Updated 2020-08-13T02:00:01Z
(ilustrasi)
Jakarta, fajarharapan.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp5 triliun untuk mendukung pengembangan vaksin virus corona atau covid-19 pada tahun ini.
 
Rencananya, suntikan dana akan ditingkatkan mencapai Rp40 triliun sampai Rp50 triliun pada 2021.

Airlangga mengatakan dana dari pemerintah ini ditujukan untuk mendukung pengembangan uji klinis terhadap vaksin covid-19 yang tengah dilakukan oleh PT Bio Farma (Persero). Saat ini, perusahaan farmasi pelat merah itu tengah melakukan uji klinis fase ketiga.

"Pemerintah sendiri sudah akan menganggarkan untuk penyediaan vaksin sebanyak 30 juta sampai 40 juta di Bio Farma. Pemerintah berikan pendanaan sebesar Rp5 triliun," kata Airlangga saat menghadiri Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Rakernas Apindo) secara virtual, Rabu (12/8/2020).

Ia berharap hasil uji klinis fase ketiga bisa segera selesai. Selanjutnya, produksi vaksin diharapkan sudah bisa dilakukan per Januari 2021, sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.

Untuk tahun depan, anggaran pengembangan vaksin akan ditingkatkan sampai 10 kali lipat. Namun, belum ada rincian mengenai penggunaan dana tersebut.

"Tahun depan mungkin bisa disiapkan sampai dengan Rp40 triliun sampai Rp50 triliun," imbuhnya.

Sebelumnya, menteri yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan ada empat rencana pengembangan vaksin covid-19 yang sudah dipetakan pemerintah saat ini. Rencananya, pemerintah akan melibatkan BUMN, swasta nasional, hingga perusahaan biofarmasi dari China dan Korea Selatan untuk pengembangan vaksin.

"Pemerintah tengah mengejar agar vaksin ini bisa segera ditemukan, maka pemerintah multitasking bekerja sama dengan beberapa perusahaan," ucapnya.

Pertama, kerja sama antara Bio Farma melalui holding BUMN farmasi dengan Sinovac Biotech Ltd dari China. Saat ini, Bio Farma tengah melakukan uji klinis fase ketiga di Bandung, Jawa Barat untuk 1.600 dosis vaksin dengan periode Juli-September 2020.

Bila uji klinis berhasil dan bisa diproduksi, maka masa produksi akan berlangsung pada Oktober dengan target 10 juta dosis per bulan. Dengan begitu kapasitas produksi mencapai 120 juta dosis per tahun untuk tahun depan.

Kedua, kerja sama antara PT Kalbe Farma dengan Genexine Consortium Korea Selatan. Uji klinis tahap pertama sudah dilangsungkan keduanya di Korea Selatan pada Juni 2020.

Saat ini, keduanya tengah melangsungkan uji klinik tahap kedua dan rencananya akan masuk tahap ketiga pada September 2020 sampai Maret 2021. 

Bila uji klinis selesai, produksi ditargetkan mencapai 50 juta dosis per tahun dan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ditargetkan keluar pada Agustus 2021.

Ketiga, Bio Farma dengan Koalisi untuk Inovasi Persiapan Epidemi (Coalition for Epidemic Preparedness Innovation/CEPI), sebuah kerja sama antar pemerintah dan swasta di tingkat global yang berbasis di Norwegia.

"Ini akan memberi akses kepada berbagai penemuan vaksin di berbagai negara, bahkan di sini bahan baku vaksin juga bisa diakses melalui India," ujarnya.

Bentuk kerja sama ini berupa transfer teknologi formulasi vaksin yang telah dikembangkan oleh CEPI ke Bio Farma. Targetnya, Bio Farma bisa menjadi satu dari daftar 10 perusahaan yang bisa memproduksi vaksin CEPI di masa mendatang sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Keempat, kerja sama antara PT BCHT Bioteknologi Indonesia dengan China Sinopharm International Corporation (Wuhan Institute of Biological Product). Kerja sama ini berupa uji klinik tahap pertama dan kedua di RS Rujukan Covid-19 dan sudah dimulai di China sejak April 2020. (*)


×
Berita Terbaru Update