Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kido/Hendra dan Kenangan Indonesia Berkumandang di China

Selasa, 18 Agustus 2020 | 01:00 WIB Last Updated 2020-08-17T18:00:05Z
(Kido/Hendra berkumandang di China)
Jakarta, fajarharapan.id - Perayaan 17 Agustus awalnya terasa membahagiakan dalam bingkai sederhana bagi Markis Kido dan Hendra Setiawan. 

Namun ketika beranjak besar, Kido/Hendra justru sukses memberikan kado indah bagi ulang tahun kemerdekaan Indonesia 12 tahun silam.
 
Kido kecil dan Hendra kecil adalah sosok anak-anak pada umumnya. Anak-anak yang sangat antusias mengikuti berbagai perlombaan di tempat mereka tinggal.

Kido mengaku sangat piawai dalam berbagai lomba dan sering mengakhirinya dengan gelar juara.

"Saya sudah sering juara kalau lomba 17-an. Apalagi lomba balap karung karena lompatan saya tinggi hasil latihan badminton, ucap Kido.

Berbeda dengan Kido, Hendra justru mengaku tidak punya peruntungan bagus dalam perlombaan menyambut 17 Agustus.

"Saya sering ikut lomba makan kerupuk, bawa kelereng dengan sendok. Seingat saya tidak pernah juara. Tetapi saya tidak pernah sedih. Hahaha," ujar Hendra.

Selain memeriahkan peringatan 17 Agustus dengan lomba, Kido dan Hendra tumbuh besar dengan terus mengalami perkembangan terhadap pengertian upacara bendera Merah-Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

"Saat kecil, ikut upacara bendera hanya sekadar ikut saja. Namun sejak mulai aktif bermain badminton dan melihat Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky serta Candra Wijaya/Tony Gunawan bisa juara Olimpiade, di situ saya mulai bisa merasakan kebanggaan tentang Indonesia."

"Saya mulai punya cita-cita untuk suatu saat bisa berprestasi dan membuat Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah-Putih berkibar," kata Hendra.

Sementara itu Kido justru menyebut ia tak berani punya mimpi muluk dan terlalu tinggi.

"Saat kecil, mimpi saya hanya mau jadi pemain pelatnas badminton dan bisa keliling dunia keluar negeri. Setelah jadi pemain pelatnas, barulah saya mulai punya cita-cita yang lebih besar," tutur Kido.

Seiring perjalanan waktu, Kido dan Hendra dipertemukan dan akhirnya menjadi pasangan ganda putra. Mereka telah sukses jadi juara dunia 2007 dan jadi unggulan pertama menuju Olimpiade 2008 yang berlangsung di Beijing, China.

Sebagai unggulan pertama, beban Kido/Hendra cukup besar untuk melanjutkan tradisi emas Olimpiade dari tim badminton.

Salah satu ancaman besar dalam perjuangan Kido/Hendra adalah peluang bertemu Tan Boon Heong/Koo Kien Keat di babak perempat final. Ganda asal Malaysia itu selalu menang dalam tujuh pertemuan terakhir melawan Kido/Hendra.

"Meski unggulan pertama, kami tidak pernah menang lawan Koo/Tan. Mereka kuat sekali dan kami selalu kesulitan," ujar Hendra.

"Justru karena kami tidak pernah menang, beban itu saya rasakan jadi berkurang. Begitu kami akhirnya bertemu, kami hanya berusaha tampil maksimal dan lepas. Mereka justru yang akhirnya terbebani," kata Kido.

Kido/Hendra akhirnya bisa menang 21-16, 21-18 atas Koo/Tan dan terus melanjutkan perjalanan dengan masuk final Olimpiade. Di babak final, Kido/Hendra berjumpa unggulan kedua, Cai Yun/Fu Haifeng.

Laga final Olimpiade 2008 itu berlangsung pada 16 Agustus, satu hari sebelum ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

"Kalau bagi saya, permainan kami lawan Cai/Fu bisa lebih 'masuk' dibandingkan kalau bertemu Koo/Tan. Jadi kami cukup percaya diri di babak final. Meski kami kalah di gim pertama, kami terus berusaha. Lawan justru terlihat tertekan karena dukungan penonton mereka sendiri," ujar Kido.

Setelah kalah 12-21 di gim pertama, Kido/Hendra menang 21-11 di gim kedua dan sukses mendapat gold medal point di angka 20-12.

Dalam momen itu, Kido/Hendra justru berkali-kali gagal memastikan kemenangan. Cai/Fu yang sudah terlihat pasrah malah sukses empat kali menggagalkan match point.
Kido sudah sempat berteriak pada angka 20-14 karena menyangka shuttlecock keluar tetapi ternyata dinyatakan masuk.

Pada kedudukan 20-16, Kido/Hendra akhirnya bisa memastikan kemenangan. Rangkaian smes Kido ditutup oleh pukulan backhand Hendra ke arah yang kosong di pertahanan Cai/Yu.

Kido/Hendra berpelukan dengan Sigit Pamungkas di lapangan lalu disusul pelukan kemenangan bersama Christian Hadinata yang juga ikut mendampingi.

"Saat itu saya hanya berpikir untuk berusaha terus. Masa tinggal satu poin tidak bisa. Akhirnya kami bisa juara," kata Hendra.

Dengan jaket merah-putih, Kido dan Hendra berdiri di podium tertinggi. Lagu Indonesia Raya berkumandang mengiringi naiknya bendera Merah-Putih ke tempat tertinggi.
"Rasanya bangga dan lega saat itu karena kami bisa jadi juara Olimpiade," tutur Hendra.

Kido masih ingat benar bahwa keberhasilan meraih medali emas itu terjadi di 16 Agustus sekitar pukul 21.00.
"Paginya, kami ikut upacara di KBRI. Masih ngantuk tetapi kami bangga luar biasa karena berhasil membawa Indonesia Raya berkumandang," tutur Kido sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Hari itu, 17 Agustus 2008, Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-63 dengan kepingan medali emas dari Kido/Hendra sebagai hadiah istimewa. (*)


×
Berita Terbaru Update