Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Garuda Rugi, Belum Bisa Terbang

Senin, 03 Agustus 2020 | 17:00 WIB Last Updated 2020-08-03T10:00:02Z
(Garuda Indonesia)

Jakarta, fajarharapan.id - Maskapai penerbangan pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan kerugian mencapai US$ 712,72 juta (Rp 10,40 triliun, asumsi kurs Rp 14.600/US$) pada Akhir semester I-2020. 

Pada sepanjang kuartal I-2020 lalu Garuda juga membukukan kerugian bersih senilai US$ 120,1 juta
Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu dimana perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih senilai US$ 24,11 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan perusahaan pada periode ini mengalami penurunan drastis sampai 58,18% secara year on year (YoY). Pendapatan perusahaan tercatat senilai US$ 917,28 juta (Rp 13,39 triliun), turun tajam dari US$ 2,19 miliar di akhir Juni 2019 lalu.

Penurunan paling tajam terjadi pada pendapatan dari penerbangan berjadwal yang turun menjadi US$ 750,25 juta dari sebelumnya di enam bulan pertama tahun lalu senilai US$ 1,85 miliar.

Namun demikian, terjadi kenaikan pada pos pendapatan penerbangan tidak berjadwal dari sebelumnya senilai US$ 4,37 juta menjadi sebesar US$ 21,54 juta. Namun kenaikan ini juga tak bisa mengkompensasi penurunan kinerja perusahaan, sebab juga terjadi penurunan pendapatan lainnya menjadi US$ 145, 47 juta dari US$ 334,06 juta.

Karena terdampaknya pendapatan perusahaan, hal ini juga menyebabkan turunnya biaya operasional perusahaan menjadi US$ 1,64 miliar dari sebelumnya US$ 2,10 miliar.

Perusahaan mencatatkan keuntungan kurs pada periode ini senilai US$ 20,27 juta dari sebelumnya merugi US$ 16,16 juta. Namun membukukan kerugian dari bagian atas hasil bersih entitas asosiasi senilai US$ 3,04 juta dari sebelumnya untung US$ 3.868.

Kas dan setara kas perusahaan pada periode ini mengalami penurunan cukup dalam menjadi US$ 165,41 juta dari sebelumnya senilai US$ 199,34 juta. Sehingga nilai aset lancar turun menjadi US$ 717,10 juta dari US$ 1,13 miliar.

Sedangkan pada aset tak lancar naik menjadi US$ 9,56 miliar dari sebelumnya US$ 3,32 miliar. Sehingga total aset tercatat senilai US$ 10,28 miliar, naik dari US$ 4,45 miliar.
Manajemen perusahaan menyebutkan kenaikan aset yang signifikan ini merupakan dampak dari implementasi PSAK 71, 72 dan 73 sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku efektif pada 1 Januari 2020.

"Grup mempunyai dampak signifikan sehubungan dengan implementasi PSAK 73 yaitu penambahan Aset Hak Guna Usaha Pesawat, Perlengkapan dan Peralatan, Perangkat Keras, Kendaraan, Tanah dan Bangunan dan Prasarana sebesar US$ 6,7 Miliar atau kenaikan sebesar 150,84% dari Total Aset tahun 2019, kenaikan ini sejalan dengan kenaikan liabilitas sewa pembiayaan," tulis manajemen dikutip Minggu (2/8/2020).

"Grup sebagai penyewa mengakui aset hak guna dan liabilitas sewa sehubungan dengan sewa yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai sewa operasi berdasarkan PSAK 30: Sewa, kecuali atas sewa jangka pendek atau sewa dengan aset bernilai-rendah."

Dari pos liabilitas, terjadi peningkatan signifikan menjadi US@ 10,36 miliar dari sebelumnya senilai US$ 3,73 miliar di akhir tahun lalu.

Kenaikan ini terutama disebabkan karena naik tajamnya liabilitas jangka panjang akibat liabilitas sewa pembiayaan dan liabilitas estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat. Dua pos ini menjadikan liabilitas jangka panjang meningkat tajam menjadi US$ 5,96 miliar dari sebelumnya US$ 477,21 juta sebagaimana dikutip pada cnbcindonesia.com.

Sedangkan dari liabilitas jangka pendek naik menjadi US$ 4,40 miliar dari sebelumnya senilai US$ 3,25 miliar. (*)

×
Berita Terbaru Update