Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rabu Sore Rupiah Rp14.282 per dolar AS

Rabu, 01 Juli 2020 | 23:00 WIB Last Updated 2020-07-01T16:00:04Z
(ilustrasi)
Jakarta, fajarharapan.id - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.282 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (1/7/2020) sore. Posisi tersebut melemah 0,12 persen dibandingkan perdagangan Selasa (30/6/2020) sore di level Rp14.265 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.341 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp16.302 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama won Korea Selatan yang melemah 0,05 persen, peso Filipina melemah 0,03 persen, rupee India melemah 0,12 persen dan baht Thailand yang melemah 0,09 persen.

Sebaliknya mata uang di kawasan Asia yang terpantau menguat terhadap dolar AS antara lain yen Jepang dengan penguatan 0,38 persen, dolar Singapura menguat 0,04, dolar Taiwan menguat 0,04 persen, yuan China menguat 0,05 persen dan ringgit Malaysia menguat 0,01 persen.

Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,12 persen, dolar Kanada menguat 0,16 persen dan franc Swiss menguat 0,04 persen. Hanya dolar Australia yang terpantau melemah 0,14 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh dampak virus corona (covid-19) terhadap ekonomi Indonesia tidak separah negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Meski PSBB diramal bakal membuat ekonomi kuartal II tumbuh negatif 3,1 persen, kondisi tersebut dipandang lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya terutama di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, prediksi IMF,Bank Dunia maupun OECD juga bisa berbeda dengan ramalan dari pemerintah yang tahu persis kondisi di lapangan.

Ia memprediksi rupiah akan ditutup menguat tipis 7 point di level Rp14.082. Sementara dalam perdagangan besok, rupiah masih akan menguat di level Rp14.000-14.120.

"Dan bisa saja ekonomi Indonesia di Kuartal Kedua bisa di atas 1 persen. Itu bisa dilihat dari ekspektasi sebelum-belumnya di antaranya cadangan devisa yang diramalkan turun tetapi mengalami peningkatan, NPI yang diramal turun tetapi kenyataannya naik," ujar Ibrahim.

Sementara dari sisi eksternal, rencana stimulus oleh The Fed untuk membeli obligasi korporasi di pasar sekunder, memperluas pembelian surat sebagai bagian dari skema stimulus hingga rencana Presiden Donald Trump untuk menggelontorkan US$1 triliun ke sektor infrastruktur juga menjadi sentimen positif.
 
Selain itu, sentimen positif pasar juga akan muncul seiring meredanya penyebaran covid-19 dan fokus pemerintah China untuk melonggarkan kredit agregat.

Biro Statistik Nasional (NBS) China mencatat output industri naik 4,4 persen pada bulan Mei dari bulan yang sama tahun sebelumnya, walaupun lebih rendah dari median estimasi analis yang memperkirakan ekspansi hingga 5 persen sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

"Data tersebut menunjukkan bahwa ekonomi China terus keluar dari pelemahan yang disebabkan oleh pandemi virus corona, didukung oleh stimulus kebijakan berkelanjutan yang mendorong pertumbuhan kredit," pungkas Ibrahim. (*)

×
Berita Terbaru Update