Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jadi Rujukan Nasional, Sumbar Dinilai Sukses Tangani Covid 19

Jumat, 17 Juli 2020 | 01:00 WIB Last Updated 2020-07-16T18:00:06Z
(covid 19)

Padang, fajarharapan.id - Kesuksesan Sumbar menangani Covid-19 lewat keberadaan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Unand, mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. 

Tak main-main, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional Letjen TNI Doni Monardo mengajak Dr dr Andani Eka Putra selaku kepala labor mengunjungi Jawa Timur (Jatim) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) guna membagikan sukses story keberhasilan itu.

”Pak Andani selain ke Jatim, ikut ke Sulsel ya. Bapak di sana cerita tentang penanganan Covid-19 di Sumbar,” ujar Doni, saat Andani bersama Deputi Bidang Strategis Lemhanas Prof Reni Mayerni dan pengusaha Yv Tri Saputra bersilaturahim di kantornya Graha BNPB Jakarta Timur, Selasa malam (14/7/2020). 

Dua provinsi tersebut saat ini tengah berjuang keras dalam menangani kasus Covid-19 yang tergolong tinggi.

Mendapat tawaran itu, Andani bersama timnya di Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand yang sedang memeriksa 1.000 spesimen pemeriksaan Covid-19 asal Kalimantan Selatan, langsung mengiyakan. “Siap Pak Doni. Insya Allah…,” jawab Dr Andani.

Selama kunjungan mulai kemarin (15/7/2020) sampai Sabtu (18/7/2020) mendatang itu, Dr Andani bersama tim berbagi dengan para dokter dan tim medis bagaimana upaya dalam percepatan penanganan Covid-19. Jatim menjadi provinsi yang dikunjungi pertama, sebelum terbang ke Makassar, Sulsel.

”Saya sudah siapkan pertemuan para medis termasuk dokter-dokter dengan Pak Andani. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulsel yang akan menemani beliau selama di Makassar,” jelas Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat komunikasi dengan Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana yang mendampingi Doni Monardo dalam kunjungannya ke Jatim dan Sulsel.

”Kunjungan kerja di Jatim dan Sulsel selama empat hari (15-18/7/2020). Semoga lancar, sukses, dan memberi manfaat pada banyak orang. Aamiin ya robbal aalamiin,” kata Aqua.

Rabu (16/7/2020) malam, Doni dan rombongan telah tiba di Jatim. Lalu, pada Jumat pagi (17/7/2020), kata Aqua, setelah pesawat yang ditumpangi Doni dan rombongan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, istirahat sebentar.

”Kemudian, naik pesawat yang lebih kecil ke Palopo. Dilanjutkan jalan darat sekitar satu jam ke Luwu Utara,” tambah Aqua sebelum terbang dari Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Surabaya, Jatim bersama Doni Monardo dan rombongan, Rabu (15/7/2020) malam.

Tembus 80 Ribu Kasus
Total kumulatif kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia tembus 80.094 orang per Rabu (15/7/2020). Dari jumlah tersebut, 39.050 orang sembuh dan 3.797 orang lainnya meninggal. ”Tambahan yang kita dapatkan adalah 1.522 orang, sehingga saat ini totalnya menjadi 80.094 orang,” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, kemarin (15/7/2020).


Angka tersebut didapatkan berdasarkan pemeriksaan secara massif di 463 kabupaten/ kota terdampak. Lonjakan kasus hingga 80 ribu orang ini hanya membutuhkan waktu 4 bulan sejak pasien positif pertambah diumumkan awal Maret 2020. 

Awalnya, dua orang terkonfirmasi positif virus korona.
Menurut Yurianto, pihaknya sudah memeriksa 24.871 spesimen per hari. Dengan demikian total, spesimen yang telah diperiksa sejak Maret berjumlah 1.122.339 spesimen. Namun demikian, secara individu sejak 2 Maret hingga kemarin pemerintah baru memeriksa sebanyak 657.655 orang.

Jawa Timur tercatat sebagai provinsi yang memiliki jumlah kumulatif kasus positif terbanyak dengan 17.395 orang. Kemudian berturut-turut, DKI Jakarta 15.324 orang, Sulawesi Selatan 7.452 orang, Jawa Tengah 5.914 orang, dan Jawa Barat 5.310 orang.

Presiden Jokowi memprediksi puncak kasus Covid-19 di Indonesia terjadi pada Agustus hingga September 2020. Perkiraan tersebut mengacu pada jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 yang saat ini terus melonjak. 

“Kalau melihat angka-angka memang perkiraan puncaknya Agustus-September, perkiraan terakhir yang saya terima,” jelas Jokowi dalam pertemuan dengan media, Senin (13/7/2020) lalu.

Untuk penambahan kasus positif kemarin (15/7/2020), Jateng mencatat pertambahan kasus positif terbanyak, yakni 261 orang. “Jawa tengah melaporkan kasus baru sebanyak 261 orang, namun juga melaporkan kasus sembuh sebanyak 120 orang,” ujar Yuri.

Selain Jateng, kasus positif virus korona juga disumbangkan dari provinsi lain. Seperti, DKI Jakarta dengan 260 orang, Jawa Timur 165 orang, Sulawasi Selatan 158 orang, dan Kalimantan Selatan 109 orang. Lalu, Sumatera Utara dengan 99 orang, Jawa Barat 75 orang, Bali 63 orang, dan Papua 60 orang. Sementara sejumlah daerah lain menyumbang kasus baru di bawah 50 orang.

Sedangkan kasus sembuh, Jawa Timur mencatat tambahan pasien sembuh terbanyak dengan 521 orang. Disusul DKI Jakarta dengan 193 orang, Jawa Barat 140 orang, Jawa Tengah 120 orang, dan Sulawesi Selatan 113 orang.

Kemiskinan dan Ketimpangan Naik
Sementara itu, angka kemiskinan RI naik akibat pandemi Covid-19. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebut, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 26,42 juta pada Maret 2020. Jumlah tersebut meningkat dari 24,79 juta orang atau 9,22 persen dari total populasi pada September 2019. Lebih tinggi pula dari 25,14 juta orang atau 9,41 persen dari total populasi pada Maret 2019.


“Jumlah penduduk miskin naik 1,63 juta orang dari September 2019 dan naik 1,28 juta dari Maret 2019,” ujarnya melalui virtual conference di Jakarta, kemarin (15/7/2020). 

Suhariyanto menyebutkan, alasan peningkatan jumlah penduduk miskin itu karena dampak pandemi yang membuat pendapatan masyarakat menurun. Yang lebih memprihatinkan, seluruh lapisan masyarakat tercatat menurun, namun yang paling terpukul adalah masyarakat berpendapatan menengah.

”Hasil survei pendapatan seluruh masyarakat menurun, khususnya masyarakat berpendapatan rendah, di mana 7 dari 10 masyarakat pendapatan rendah di bawah Rp 1,8 juta terpengaruh. Masyarakat pendapat tinggi di atas Rp 2,7 juta juga turun pendapatannya,” urainya.

Selain itu, peningkatan tingkat kemiskinan terjadi hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Secara wilayah, kenaikan tingkat kemiskinan tertinggi di DKI Jakarta mencapai 1,11 persen poin. Sementara penurunan tertinggi di Sulawesi Tengah 0,26 persen poin. “Seluruh provinsi di Jawa mengalami kenaikan kemiskinan. Tertinggi di DKI Jakarta peningkatannya 1,11 persen poin,” imbuhnya.

Suhariyanto memerinci, seluruh provinsi di pulau Jawa memiliki kenaikan kemiskinan di atas 0,80 persen poin. Jawa Barat misalnya naik 1,06 persen poin dari 6,82 persen di September 2019 menjadi 7,88 persen di Maret 2020.
 
Selain itu, kenaikan juga terjadi di Banten 0,98 persen poin dari 4,94 persen menjadi 5,92 persen. Lalu ada Jawa Timur naik 0,89 persen poin dari 10,2 persen menjadi 11,09 persen, Daerah Istimewa Yogyakarta naik 0,84 persen dari 11,44 persen menjadi 12,28 persen. Terakhir Jawa Tengah 0,83 persen poin dari 10,58 persen menjadi 11,41 persen.

Adapun gini ratio atau tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur tercatat naik menjadi 0,381. Menurut Suhariyanto, gini ratio Maret 2020 meningkat 0,001 poin jika dibandingkan September 2019 sebesar 0,380, dan menurun 0,001 poin dibandingkan Maret 2019 yang sebesar 0,382. “Peningkatan ini terjadi di kota maupun desa,” jelasnya.

Ironisnya, angka gini ratio RI ada dalam tren menurun sejak Maret 2015 hingga September 2019. Hal itu mencerminkan adanya perbaikan pemerataan pengeluaran Indonesia sebagaimana dikutip pada padek.com.

Tetapi, capaian positif itu sirna akibat pandemi Covid-19. ”Namun demikian, akibat adanya pandemi Covid-19, nilai Gini Ratio kembali mengalami kenaikan pada Maret 2020,” katanya. (*)

×
Berita Terbaru Update