Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Eucalyptol yang Diklaim Mampu Atasi Covid 19

Senin, 06 Juli 2020 | 17:00 WIB Last Updated 2020-07-06T10:00:07Z
(Eucalyptol)

Jakarta, fajarharapan.id - Kementerian Pertanian (Kementan) belakangan disorot warganet karena mengeluarkan produk berupa kalung aromaterapi berbahan eucalyptus yang disebut mampu atasi virus corona. 

Kementerian Pertanian optimis eucalyptus yang dibuat dengan teknologi nano ini mampu mengatasi virus corona karena mengandung senyawa eucalyptol. 

Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry mengatakan, penelitian menunjukkan eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. "Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan,” jelas Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry dalam keterangan Sabtu (4/7/2020). 

Lantas apa sebenarnya senyawa eucalyptol yang ada dalam kandungan eucalyptus ini? Bukan sebagai Obat Mengenal eucalyptol Eucalyptol merupakan monoterpen yang ditemukan secara alami pada banyak tanaman aromatik.  

Nama eucalyptol merujuk dari keberadaannya dalam minyak esensial Eucalyptus globulus dan Melaleuca leucadendron L. Pada tanaman seperti minyak kayu putih, eucalyptol menjadi komponen utama di mana 85 persennya merupakan senyawa tersebut. 

Eucalyptus polibrac, juga dilaporkan mengandung hingga 91 persen eucalyptol. Eucalyptol merupakan cairan tak berwarna dengan bau khas dengan rasa segar dan menyengat yang secara eksklusif diperoleh dengan cara isolasi minyak esensial. 

Beberapa tanaman lain juga dilaporkan memiliki kandungan ini di antaranya adalah rosemary, daun laurel, clary sage, mur, kapulaga, adas manis bintang, lavender, dan peppermint. 

Melansir dari Foodb, eucalyptol diberi status GRAS (Umumnya diakui aman) oleh Asosiasi Produsen Rasa dan Ekstrak (FEMA) pada tahun 1965. 

Eucalyptol memiliki struktur kimia C10H18O dan memiliki nama IUPAC 1,3,3-trimethyl-2-oxabicyclo [2.2.2] oktan. Eucalyptol memiliki beberapa penyebutan di antaranya Eucalyptolum (Latin), Cineol (Jerman), Cinéole (Prancis) serta Cajeputol. 

Buku Medical Toxicology of Natural Substances terbitan John Wiley & Sons, INC penggunaan minyak eucalyptus yang di dalamnya mengandung eucalyptol telah digunakan sejak lama oleh Suku aborigin Australia serta suku asli Brazil. Mereka menggunakannya untuk mengatasi masalah pada infeksi saluran pernapasan atas, asma, penyakit karena virus, demam dan infeksi bronkial. 

Penggunaan juga ditujukan untuk seseorang yang mengalami diare, sakit gigi, gigitan ular dan lesi pada kulit. Eucalyptol telah disetujui US Food and Drug Administration (FDA) sebagai bahan tambahan makanan. 

Eucalyptol juga digunakan sebagai komponen mouthwash seperti pada produk Listerine. Di Jerman, eucalyptol dilisensikan sebagai produk obat dengan nama Soledum dalam bentuk kapsul dan obat luar yang diindikasikan untuk pengobatan bronchitis, sinusitis dan permasalahan pernapasan. 

Dalam sebuah studi uji klinis kecil eucalyptol juga disebut memiliki fungsi mukolitik (pengencer dahak) dan anti inflamasi. Kalung anti corona produksi Kementan menuai sejumlah kontroversi. Beberapa pakar menilai produk kalung anti virus corona ini perlu diuji lebih lanjut. "Kalung itu belum diujikan pada manusia, jadi tidak ada bukti virus apapun bisa mati kalau dipakaikan kalung itu. 

Mungkin virus yang menempel di kalung akan mati, tapi virus yang jaraknya 1-2 meter dari badan kita, bagaimana?," papar Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), DR dr Inggrid Tania MSI (4/7/2020). 

Ia juga mengatakan eucalyptus perlu diuji sebagai antivirus dengan uji in vitro dan in vivo pada hewan terhadap virus SARS-CoV-2 baru kemudian manusia. Ia mengatakan tahapan penelitian yang dilakukan Kementan baru tahap molecular docking dan in vitro. Molecular docking berarti berdasarkan bioinformatika yakni simulasi mencocokkan 1,8 cineol dengan protein virus corona. 

"Penelitian kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona dan gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya Covid-19, yakni SARS-CoV-2," kata dr Inggrid. Meski demikian, pihaknya mengaku mendukung pengembangan eucalyptus sehubungan dengan Covid-19. 

Apalagi minyak ini secara pengalaman empirik telah digunakan sejak zaman nenek moyang untuk mengatasi keluhan terkait masalah pernapasan. Sehingga menurutnya dapat dipakai untuk mengurangi keparahan dari gejala gangguan sistem pernapasan pasien Covid-19 sebagaimana dikutip pada kompas.com.

Kementan sendiri Sabtu (4/7/2020) mengatakan meski telah menggunakan produk ini nantinya masyarakat tetap perlu mematuhi protokol kesehatan termasuk menggunakan masker. “Tetap harus pakai masker dan menjalankan protokoler Covid-19,” kata Fadjry. (*)




×
Berita Terbaru Update