Penyerangnya Dituntut Ringan, Novel Ajak Publik Berantas Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2020, 13:00 WIB Last Updated 2020-06-13T06:00:08Z


(Novel Baswedan)

Jakarta, fajarharapan.id - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan mengajak publik untuk tetap berani dan konsisten memberantas korupsi. 

"Dengan semangat upaya memberantas korupsi yang baik ke depan, tentunya saya mengajak semua kawan-kawan yang berjuang untuk memberantas korupsi untuk tetap berani dan konsisten," kata Novel dalam rekaman video yang diterima, Jumat (12/6/2020). 

Novel mengatakan, penyiraman air keras yang dialaminya dan disusul dengan tuntutan ringan bagi kedua pelaku tidak boleh membuat publik takut. 

Menurut Novel, dengan peristiwa yang dialaminya tersebut, para koruptor justru sedang berharap agar publik takut dalam memberantas korupsi. "Mereka berharap kita semua takut dengan kejadian ini, kita semua jadi melemah dan kemudian mereka bisa dengan semaunya sendiri merampok dan menjarah uang rakyat, harta dari bangsa dan negara," ujar Novel. 

Ia pun menegaskan, terlepas dari apa pun hasil persidangan, ia akan tetap berikhtiar untuk memberantas korupsi. "Karena apabila nanti hal itu tidak terjadi bagi saya, saya telah melakukan apa yang harus saya lakukan dan apabila prosesnya putusan kemudian berjalan seperti keadaan sekarang maka itulah potret dari penegakan hukum di Indonesia," kata Novel. 

Dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis, dituntut hukuman satu tahun penjara. 

Rahmat dianggap terbukti melakukan penganiayaan dengan perencanaan dan mengakibatkan luka berat pada Novel karena menggunakan cairan asam sulfat atau H2SO4 untuk menyiram penyidik senior KPK itu. 

Sementara itu, Rony dianggap terlibat dalam penganiayaan karena ia membantu Rahmat dalam melakukan aksinya. Menurut Jaksa, Rahmat dan Ronny menyerang Novel karena tidak tidak suka atau membenci Novel Baswedan karena dianggap telah mengkhianati dan melawan institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagaimana dikutip pada kompas.com.

"Seperti kacang pada kulitnya, karena Novel ditugaskan di KPK padahal dibesarkan di institusi Polri, sok hebat, terkenal dan kenal hukum sehingga menimbulkan niat terdakwa untuk memberikan pelajaran kepada Novel dengan cara membuat Novel luka berat," ungkap jaksa. Atas perbuatannya itu, Rahmat dan Ronny dituntut dengan Pasal 353 KUHP Ayat (2) jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. (*)



Terkini