Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

New Normal Beri Tenaga Rupiah ke Rp14.095

Rabu, 03 Juni 2020 | 23:00 WIB Last Updated 2020-06-03T16:00:00Z
(ilustrasi)
Jakarta, fajarharapan.id - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.095 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (3/6/2020) sore. Posisi tersebut menguat 2,22 persen dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp14.415 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.245 per dolar AS atau naik dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.502 per dolar AS.

Sore ini, mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Rupiah menguat bersama dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, dolar Singapura menguat 0,16 persen, dolar Taiwan menguat 0,26 persen, won Korea Selatan menguat 0,70 persen, peso Filipina menguat 0,48 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,22 persen.

Sementara itu, yen Jepang melemah 0,05 persen, rupee India melemah 0,15 persen, yuan China melemah 0,14 persen, dan baht Thailand melemah 0,13 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, mata uang di negara maju bergerak variatif terhadap dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris menguat 0,21 persen dan dolar Australia menguat 0,04 persen. Sedangkan dolar Kanada melemah 0,01 persen dan franc Swiss melemah 0,05 persen terhadap dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan rencana pemberlakuan new normal menjadi sentimen positif pada aset berisiko seperti saham. Terbukti, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup hampir 2 persen, tepatnya 1,93 persen menjadi 4.941. Ia menilai pelaku pasar seakan tidak mau ketinggalan kereta untuk masuk ke aset berisiko.

"Euforia pembukaan aktivitas ekonomi di tengah pandemi, termasuk rencana new normal memberikan sentimen positif ke aset berisiko," ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memberikan energi pada pergerakan rupiah. Sebaliknya, dolar AS masih terpukul sentimen negatif demo yang berakhir ricuh di AS. Demo anarkis itu dimotori kekecewaan warga terhadap isu rasisme di AS usai meninggalnya warga berkulit hitam George Floyd di tangan polisi AS sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

"Hingga sore ini juga tidak terlihat eskalasi ketegangan antara AS dan China, sehingga untuk sementara ini belum menjadi sentimen negatif untuk aset berisiko," paparnya. (*)
×
Berita Terbaru Update