Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lonjakan Kasus Covid 19 Tekan Rupiah ke Rp13.980 per Dolar AS

Rabu, 10 Juni 2020 | 23:00 WIB Last Updated 2020-06-10T16:00:20Z
(ilustrasi)
Jakarta, fajarharapan.id - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.980 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (10/6/2020) sore. Posisi tersebut terkoreksi 0,65 persen dibandingkan perdagangan Selasa (9/3/2020) sore di level Rp13.890 per dolar AS.
Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.083 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp13.973 per dolar AS.

Pergerakan rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia lainnya yang berada di zona hijau. Tercatat, dolar Singapura menguat sebesar 0,32 persen, won Korea Selatan 0,55 persen, dan peso Filipina 0,18 persen.

Kemudian, rupee India menguat 0,03 persen yuan China melemah 0,19 persen, ringgit Malaysia melemah 0,48 persen, baht Thailand 0,52 persen, dan yen Jepang 0,41 persen.
Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju juga perkasa di hadapan dolar AS. Tercatat, poundsterling Inggris menguat 0,28 persen, dolar Australia 0,53 persen, dolar Kanada 0,19 persen, dan franc Swiss 0,52 persen.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan terdapat berbagai sentimen negatif yang membuat rupiah terkapar sore ini. Salah satunya terkait penambahan kasus positif virus corona di dalam negeri.

"Per hari ini jam 14.30 WIB kasus positif corona naik menjadi 33.076, yang sembuh 11.414, sedangkan yang meninggal 1.923 orang," ucap Ibrahim dalam keterangan resmi.

Dari sisi eksternal, sentimennya masih sama seperti sebelumnya yaitu proyeksi Bank Dunia yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global masuk resesi pada 2020. Hal ini karena kegiatan ekonomi internasional akan menyusut 5,2 persen pada 2020 atau masuk dalam resesi terdalam sejak perang dunia ke-II sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

"Bank Dunia memproyeksi ada kemungkinan paling buruk yaitu kontraksi ekonimi global hingga 8 persen pada 2020," pungkas Ibrahim. (*)
×
Berita Terbaru Update