Dexamethasone, Harapan Baru Pasien Covid 19

Rabu, 17 Juni 2020, 23:00 WIB Last Updated 2020-06-17T16:00:11Z


(ilustrasi)

Jakarta, fajarharapan.id - Upaya untuk terus mencari pengobatan bagi Covid-19 mendapat titik terang dari temuan Oxford University. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun memuji hasil uji klinis dexamethasone yang dilakukan oleh Oxford, Selasa (16/6/2020). Temuan ini menjadi berita besar yang bisa membantu menyelamatkan nyawa pasien Covid-19 yang sakit kritis.
"Ini adalah pengobatan pertama yang ditujukan untuk mengurangi angka kematian pada pasien dengan Covid-19 yang membutuhkan dukungan oksigen atau ventilator," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah pernyataan.

Ghebreyesus pun menyampaikan ucapan selamat bagi pemerintah Inggris, Oxford University, dan banyak rumah sakit dan pasien di Inggris yang telah berkontribusi pada terobosan ilmiah tersebut. Upaya ini akan  membantu menyelamatkan nyawa banyak orang di seluruh dunia karena obat tersebut mudah ditemukan dan berharga terjangkau.

WHO telah menerima hasil awal dari uji coba yang dilakukan  Oxford University. Ghebreyesus mengatakan, lembaga yang berada dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa ini pun sedang menantikan analisis data lengkap dalam beberapa hari mendatang.

"WHO akan mengoordinasikan meta-analisis untuk meningkatkan pemahaman kita secara keseluruhan tentang intervensi ini. Pedoman klinis WHO akan diperbarui untuk mencerminkan bagaimana dan kapan obat harus digunakan dalam Covid-19," ujar Ghebreyesus.

Pada Selasa (16/6/2020), para ilmuwan dari Oxford University, Inggris, mengatakan berdasarkan uji coba, obat dexamethasone ditemukan mengurangi tingkat kematian sebesar 35 persen untuk pasien Covid-19 dalam kondisi kritis dan membutuhkan ventilator untuk alat bantu napas. Sementara, 20 persen pasien lainnya yang mengalami kondisi mendekati kritis juga demikian.

"Apa yang kamu lihat benar-benar luar biasa," ujar Peter Horby, selaku akademisi yang terlibat dalam penelitian, Rabu (17/6/2020).

Kepala petugas medis Inggris, Chris Whitty mengatakan hasil dalam uji coba terbaru menjadi yang paling penting untuk Covid-19. Para ilmuwan di seluruh dunia telah berlomba untuk menemukan pengobatan penyakit infeksi virus corona jenis baru tersebut, yang menjadi pandemi global sejak awal tahun ini.

Dexamethasone adalah steroid generik yang telah digunakan selama 60 tahun untuk mengurangi peradangan dari berbagai kondisi lain, termasuk radang sendi dan asma. Harga obat ini terjangkau di banyak negara dunia, biasanya bernilai satu dolar AS untuk per dossi.

Ilmuwan Oxford menguji dexamethasone sebagai bagian dari upaya kolektif di seluruh dunia oleh laboratorium komersial, perusahaan farmasi dan universitas untuk obat-obatan yang ada untuk melihat apakah ada yang dapat bekerja untuk Covid-19.
 
"Ini adalah satu-satunya obat yang sejauh ini terbukti mengurangi angka kematian secara signifikan," jelas Horby.

Dalam studi Oxford 2.104 pasien diberi obat dan 4.321 tidak dengan hasil yang dibandingkan. Universitas mendaftarkan lebih dari 11.500 pasien secara keseluruhan untuk menguji obat yang ada, menjadikannya sebagai uji klinis terbesar di dunia.
 
Tim peneliti dari Oxford University juga mengatakan jika dexamethasone telah digunakan lebih cepat di Inggris bisa menyelamatkan sekitar 5.000 dari lebih dari 40.000 warga di negara itu, yang sejauh ini meninggal karena Covid-19. Mereka menilai pasien harus diberi obat tersebut tanpa penundan sebagaimana dikutip pada republika.co.id.

Tetapi satu yang perlu diperhatikan adalah dexamethasone tidak membantu pasien Covid-19 dengan gejala yang lebih ringan dan tak memiliki masalah pernapasan. Sementara, obat lainnya yang telah terbukti menunjukkan manfaat terhadap pasien dengan kondisi yang parah adalah remdesivir, obat anti-virus yang diciptakan untuk melawan Ebola, yang dapat mengurangi durasi gejala yang buruk. (*)

Terkini