Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pelonggaran Lockdown Angkat Rupiah ke Rp14.895 per Dolar AS

Selasa, 12 Mei 2020 | 17:00 WIB Last Updated 2020-05-12T10:00:01Z
(ilustrasi)
Jakarta, fajarharapan.id - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.895 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (11/5/2020) sore. Posisi ini menguat 25 poin atau 0,17 persen dari Rp14.920 per dolar AS pada Jumat (8/5/2020).
Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.936 per dolar AS atau menguat dari Rp15.009 per dolar AS pada Jumat (8/5/2020).

Di kawasan Asia, rupiah menguat bersama peso Fiipina 0,22 persen, baht Thailand 0,13 persen, dan dolar Hong Kong 0,02 persen. Sementara mata uang lain justru melemah dari dolar AS.
Yen Jepang melemah 0,54 persen, rupee India minus 0,24 persen, ringgit Malaysia minus 0,24 persen, yuan China minus 0,21 persen, dolar Singapura minus 0,15 persen, dan won Korea Selatan minus 0,05 persen.
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, semuanya kompak bersandar di zona merah. Dolar Australia melemah 0,37 persen, poundsterling Inggris minus 0,32 persen, rubel Rusia minus 0,29 persen, euro Eropa minus 0,24 persen, dolar Kanada minus 0,21 persen, dan franc Swiss minus 0,19 persen.
Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan mata uang di dunia dipengaruhi oleh pelonggaran penutupan akses wilayah (lockdown) di Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Eropa. Menurutnya, hal ini membuat aktivitas ekonomi, industri, dan bisnis mulai menggeliat, sehingga memberi dampak positif dan memberi keyakinan pada pelaku pasar keuangan.

"Pasar merespons positif rencana ini, sehingga meningkatkan sentimen investor," ujar Ibrahim, Senin (11/5/2020).

Kemudian, pergerakan mata uang juga mendapat sentimen dari langkah pengaktifan proposal Komisi Uni Eropa tentang Dana Pemulihan Uni Eropa terkait penanganan dampak pandemi virus corona atau Covid-19. Selain itu, rupiah juga terpengaruh kemungkinan stimulus ekonomi baru dari bank sentral Eropa.

Di sisi lain, ada pengaruh dari peningkatan jumlah pengangguran AS mencapai 30 juta orang pada pekan lalu. Bahkan, pemerintah AS memperkirakan tingkat pengangguran AS bisa mencapai 25 persen atau lebih tinggi dari 14,7 persen pada April 2020.

"Nanti juga akan ada (rilis) data tentang penjualan ritel (di AS) dan data ekonomi China tentang produksi industri dan penjualan ritel," ungkapnya sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Sementara di dalam negeri, pergerakan rupiah sedikit banyak terpengaruh oleh keberlangsungan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dikhawatirkan semakin menekan laju ekonomi pada kuartal II 2020. Selain itu, juga terpengaruh intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar uang. (*)

×
Berita Terbaru Update