Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Apakah Virus Covid 19 Berasal dari Kelelawar Asia?

Jumat, 15 Mei 2020 | 01:00 WIB Last Updated 2020-05-14T18:00:01Z
(ilustrasi kelelawar)

Jakarta, fajarharapan.id - Penelitian terdahulu telah mengungkap bahwa kelelawar merupakan spesies pembawa virus corona penyebab sindrom pernapasan akut parah (SARS). 

Belum lama ini, studi dari University of Hong Kong (HKU) juga menyatakan bahwa Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia kemungkinan besar berasal dari kelelawar tapal kuda (horseshoe bat) yang banyak ditemui di China, India, Nepal dan Vietnam.

"Kelelawar tapal kuda China mungkin benar-benar inang asli SARS-CoV-2", kata ahli mikrobiologi dan pemimpin penelitian itu, Dr Yuen Kwok-yung, seperti dilansir laman South China Morning Post, Kamis (14/5/2020). 

Meski demikian, Yuen menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut di alam liar masih diperlukan untuk mengkonfirmasinya. Studi itu telah diterbitkan dalam International Journal Nature Medicine pada Rabu (13/5/2020).

Studi itu dilatarbelakangi oleh temuan yang mengungkap bahwa kelelawar merupakan spesies pembawa virus corona terdahulu. Kelelawar juga diyakini bertindak sebagai inang alami virus yang kemudian memicu sindrom pernapasan akut parah (SARS) pada 2003 lalu. Hanya saja, masih belum ada bukti yang ditemukan karena sulitnya mengakses hewan itu di alam liar.

Dalam studi terbaru, kaitan itu juga telah berhasil ditemukan dengan mereplikasi struktur kelelawar di lingkungan laboratorium. Studi dari HKU itu juga menyatakan adanya kemungkinan bahwa virus corona dapat menyerang usus pasien, selain dari membahayakan paru.

Untuk menguji itu, para peneliti memeriksa spesimen tinja dari pasien berusia 68 tahun yang mengalami berbagai gejala Covid-19. Tak hanya sampel tes positif, tim itu juga disebut berhasil mengisolasi virus dari tinja yang menunjukkan adanya infeksi.

Dari langkah replikasi virus itu, ada gejala gastrointestinal yang ditemukan pada pasien Covid-19. Meskipun demikian, studi lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan koneksinya. Di lain sisi, masih belum jelas apakah infeksi itu disebabkan oleh asupan makanan atau reaksi sekunder ketika virus di saluran pernapasan menyebar ke sistem pencernaan sebagaimana dikutip pada republika.co.id.

“Masih tidak mungkin bagi kita untuk menentukan apakah infeksi usus berasal dari makanan yang terkontaminasi virus, dahak ditelan dari saluran pernapasan yang terinfeksi ke saluran pencernaan, atau virus yang dari saluran pernapasan masuk ke aliran darah yang kemudian menuju ke usus,” ungkap Yuen. (*)

×
Berita Terbaru Update