Langgar Peraturan Lockdown, Turis di India Dihukum dengan Menulis Permintaan Maaf 500 Kali

Selasa, 14 April 2020, 01:00 WIB Last Updated 2020-04-13T18:00:05Z


(turis di India dihukum karena melanggar peraturan lockdown)

India, fajarharapan.com - Sepuluh turis di India yang melanggar peraturan lockdowndihukum petugas dengan cara diminta menulis permintaan maaf 500 kali.

India telah menerapkan lockdown sejak akhir Maret lalu.
Penduduk dilarang untuk keluar rumah kecuali melakukan hal penting, seperti membeli kebutuhan rumah tangga atau obat-obatan.

Sedangkan turis-turis itu, yang berasal dari Israel, Meksiko, dan Australia, dan Austria, tertangkap basah berjalan-jalan di Rishikesh.

Tempat itu terbilang bersejarah karena pernah dikunjungi Beatles pada tahun 1968 lalu.

Polisi setempat, Vinod Sharma, berkata para turis itu diberi hukuman dengan cara menulis permintaan maaf.

Mereka diharuskan menulis "Saya tidak mematuhi peraturan lockdown dengan begitu saya minta maaf."
Pernyataan maaf itu harus ditulis sebanyak 500 kali.
Turis di India dihukum, diminta menulis permintaan maaf 500 kali.

Hukuman yang tak biasa itu disebut Sharma untuk memberi mereka pelajaran.
Lebih dari 700 turis asing dari AS, Australia, Meksiko dan Israel yang tinggal di daerah itu telah melanggar aturan lockdown, kata Sharma.

Polisi mengatakan mereka juga akan mengarahkan hotel di daerah itu untuk membuat tamu asing keluar hanya jika ditemani oleh pembantu setempat.

Perusahaan yang tidak mengikuti perintah dapat menghadapi tindakan hukum, kata Sharma.

Polisi di India telah menemukan metode yang unik untuk mendorong orang agar tetap di rumah untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Salah satu cara yang mereka lakukan yaitu mengenakan helm berbentuk virus corona.

Adapula petugas di beberapa negara bagian yang terlihat dalam video di media sosial menyuruh warga yang berkeliaran untuk melakukan squat dan lompat kodok sebagai hukuman.

Pada hari Minggu (12/4/2020), polisi mengatakan mereka menangkap sembilan orang yang melanggar lockdown di distrik Patiala, negara bagian Punjab utara.

9 orang itu pada awalnya dihentikan di sebuah pos pemeriksaan.
Mereka menolak untuk kembali seperti yang diperintahkan, hingga akhirnya menginjak pedal gas mobil mereka dan menabrak barikade baja, kata para pejabat.
Bentrok tak bisa terelakkan.

Selama bentrokan itu, salah satu orang dari kelompok itu mengeluarkan pedang dan menebas tangan salah seorang polisi.

Enam petugas lagi cedera dalam serangan itu, kata polisi.
Perdana Menteri India Narendra Modi diperkirakan akan memperpanjang lockdown secara nasional yang semula dijadwalkan berakhir pada hari Selasa (14/4/2020), selama dua minggu lagi.

Beberapa negara juga telah memperpanjang pembatasan.
Pada hari Minggu, India telah melaporkan lebih dari 8.300 kasus virus corona dan 273 kematian.

Tangan seorang polisi di Negara Bagian Punjab, India, terpotong setelah bentrok dengan pria yang mengabaikan lockdown virus corona.

Bentrokan itu terjadi di pasar sayur Patiala, setelah sekelompok Nihangs, atau orang dari Sikh, datang bersenjatakan senjata tradisional.

Nihangs berusaha memasuki tempat itu, namun diadang oleh staf lokal yang menanyakan dokumen bahwa mereka mendapat izin untuk keluar dari rumah.

Terjadi ketegangan yang membuat polisi di sekitar pasar datang. Tetapi, intervensi yang mereka lakukan untuk meredakan situasi membuat bentrokan pecah.

Salah satu dari Nihangis kemudian mencabut senjatanya dan memotong tangan salah satu petugas, seperti dilaporkan Russian Today Minggu (12/4/2020).

Si pelaku yang tak disebutkan identitasnya itu sempat melarikan diri sebelum dikejar oleh kepolisian dan berhasil tertangkap.

Si pelaku, diidentifikasi bernama Sub-Asisten Inspektur Harjeet Singh, harus menjalani operasi darurat di lengan sebelah kiri sebagaimana dikutip pada tribunnews.com.

Kepolisian lokal dalam keterangan tertulis menyatakan, bentrokan yang berlangsung di sebelah timur Punjab merupakan "insiden yang disayangkan". (*)





Terkini