Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ilmuwan India: Covid 19 Telah Bermutasi Hingga 10 Jenis

Rabu, 29 April 2020 | 20:00 WIB Last Updated 2020-04-29T13:00:01Z
(ilustrasi covid 19)

New Delhi, fajarharapan.com - Sebuah studi baru yang dilakukan oleh dua ilmuwan asal India menemukan bahwa virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah bermutasi menjadi 10 jenis yang berbeda. Di antara 10 jenis itu, strain A2a terpantau sebagai yang paling dominan menginfeksi warga dunia pada akhir Maret. 

Penelitian yang dilakukan oleh Partha Majumder dan Nidhan Biswas dari National Institute of Biomedical Genomics (NIBMG) diyakini dapat membantu perang melawan Covid-19 yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. 

Temuan dari studi dikatakan dapat membantu peneliti dalam mengembangkan vaksin serta menetukan keberadaan ko-eksistensi tipe A2a dengan jenis lain di beberapa wilayah.

Ilmuwan menganalisis urutan genom dari jenis A2a dan menemukan bahwa mutasi spesifik pada jenis itu memungkinkan virus A2a menjadi sangat efisien dalam memasuki sel paru manusia, kemungkinan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis lain.  

Menurut penulis studi, SARS-CoV-2 dengan mutasi A2a sangat sistematis dalam penularan dan sebagai akibatnya, Covid-19 menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Pada awalnya, India dan banyak negara lain mengalami serangan virus tipe O yang disebut sebagai virus "leluhur" dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, yakni lokasi pertama kali virus corona jenis baru ditemukan.  Namun, virus tersebut mengalami mutasi dan berevolusi menjadi 10 jenis berbeda dari waktu ke waktu.

A2a tampak menggantikan jenis lain di sebagian besar negara. Hal ini mengartikan 10 tipe baru dari SARS-CoV-2 telah berevolusi dari tipe paling awal, yaitu O dari Cina.

“Virus corona jenis baru dapat diklasifikasikan ke dalam banyak jenis, yaitu O, A A2a, A3, B, B1, dan sebagainya. Saat ini, ada 11 jenis, termasuk tipe O yang merupakan 'tipe leluhur' yang berasal dari Wuhan,” ujar Majumder. 

Menurut Majumder, agar bertahan hidup, virus harus menyebar dengan menginfeksi hewan. Mutasi biasanya menonaktifkan virus agar tidak menularkannya, namun beberapa justu memungkinkan virus untuk bertransmisi lebih efisien dan menginfeksi lebih banyak orang.

“Virus mutan semacam itu meningkatkan frekuensi penularan dan terkadang sepenuhnya menggantikan jenis virus yang asli. SARS-CoV-2 punya kemampuan itu,” jelas Majumder.

Para ilmuwan menemukan bahwa mutasi A2a juga menyebabkan perubahan pada susunan spike protein hingga virus dengan mudah melekat pada protein permukaan lain dari sel paru. Virus corona jenis baru menggunakan spike protein untuk menginfeksi sel.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menggunakan sekuens RNA lebih dari 3.600 virus corona jenus baru yang dikumpulkan dari 55 negara mulai Desember 2019 hingga April ini. Mereka juga mengakses data sekuens RNA dalam database publik yang disebut, GISAID, dibagikan oleh para peneliti dari seluruh dunia yang mempelajari SARS-CoV-2.

Sampel kecil sekuens RNA yang diambil dari pasien Covid-19 di India menunjukkan bahwa tipe A2a menyumbang 47,5 persen dari sampel. Para peneliti juga menemukan bahwa banyak orang yang positif terinfeksi dengan tipe A2a tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri.

Namun, para ilmuwan mencatat bahwa lebih banyak sampel sekuens RNA diperlukan sebelum sampai pada kesimpulan apakah tipe A2a adalah jenis yang paling umum di India. Temuan ini, yang akan diterbitkan dalam Indian Journal of Medical Research, jurnal yang ditinjau sejawat yang diterbitkan oleh Dewan Penelitian Medis India, diharapkan dapat membantu para peneliti dalam upaya mereka menemukan vaksin melawan Covid-19 sebagaimana dikutip pada republika.co.id.

Berdasarkan data laman Worldometers, hingga Rabu (29/4/2020) terdapat 3.138.115 kasus Covid-19 di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 217.970 jiwa. Sementara, jumlah pasien yang dinyatakan pulih dari penyakit infeksi virus ini adalah 955.770 orang. (*)


×
Berita Terbaru Update