Harga Minyak Dunia Anjlok, Pemerintah Diminta Turunkan Harga BBM

Rabu, 15 April 2020, 20:48 WIB Last Updated 2020-04-15T13:48:38Z





Drs. H. Guspardi Gaus, M.Si


Jakarta, Fajarharapan.com-Pemerintah didesak untuk melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri seiring terjadinya penurunan tajam harga minyak dunia.

"Pemerintah seharusnya menurunkan harga BBM dengan tingkat harga keekonomian dalam rangka menjamin akses masyarakat bawah terhadap BBM premium dan solar," kata anggota DPR, H. Guspardi Gaus, kemarin.

Guspardi menekankan hal ini menyusul anjloknya harga minyak dunia. Katanya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melaporkan, harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) Maret 2020 turun 22,38 dollar AS per barrel atau 39,5 persen dari
bulan sebelumnya.

Selain itu, sebut Guspardi, penurunan harga BBM nonsubsidi seperti jenis pertalite dan pertamax juga harus disesuaikan dengan daya beli masyarakat saat ini dengan tetap menjamin pasokan dan distribusi ketersediaannya di tengah mewabahnya Covid-19.

Politisi PAN ini, sependapat dengan Rudi Rubiandini (Mantan Kepala SKK Migas ) yang menyatakan, kebijakan menurunkan harga BBM saat ini sudah sangat mendesak. Oleh karena itu pemerintah harus menyikapi nilai jual BBM tersebut kepada masyarakat, agar tidak ada kesan negara
mengeksploitasi rakyatnya dengan memberikan harga yang terlalu tinggi dari nilai keekonomian.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication PT Pertamina Fajriyah Usman mengungkapkan, pada prinsipnya Pertamina selaku operator akan menyesuaikan dengan kebijakan Pemerintah.

"Harga minyak dunia yang terus merosot di tengah suramnya prospek permintaan minyak akibat wabah virus Corona. Menurut jajak pendapat Reuters, permintaan minyak global diperkirakan akan menyusut 15 juta hingga 20 juta barel per hari. Kondisi ini dipicu oleh semakin banyaknya negara yang memberlakukan dan memperpanjang lockdown guna membatasi penyebaran virus Covid-19," kata mantan Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Sumbar ini.

Saat ini terdapat dua harga acuan minyak dunia yang paling banyak digunakan di dunia yaitu harga minyak dunia Brent Oil dan West Texas Intermediate (WTI). Harga WTI pada Februari 2020 mencapai di atas USD50 per barrel Amerika Serikat (AS),dan saat ini sudah turun menjadi kurang separuhnya menjadi USD 22,56 dan harga Brent Oil USD 32,12 per barrel.

Namun, penurunan harga minyak internasional di tiga bulan pertama 2020 itu ternyata tidak diikuti oleh PT Pertamina. Sekarang, adalah momentum tepat bagi pemerintah untuk mengambil langkqh
penurunan harga BBM ini. Di samping harga minyak dunia turun tajam dan dampak pendemi covid 19 yang berimbas kepada melemahnya ekonomi.

"Konsekwensi Kebijakan yang ditetapkan pemerintah dengan pemberlakuan PSBB dimana ruang gerak masyarakat yang dibatasi sehingga hampir seluruh bidang usaha dari hulu sampai hilir tidak bergerak dan serta ancaman gelombang PHK di hampir semua sektor usaha sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat juga menurun tajam," terangnya.

Anggota DPR dari Dapil Sumbar 2 ini menambahkan apabila memakai parameter dengan kurs Dollar senilai Rp16.000 dan harga minyak USD 33/barrel, maka harga minyak mentah setara Rp3.500, ditambah biaya pengolahan, transportasi, dan Ppn maka bisa menjadi Rp4.500. Kalau ditambah keuntungan Pertamina 10%, maka akan menjadi seharga Rp5.000. Mungkin harga yang pantas untuk dijual ke masyarakat dipatok di angka Rp5.000.

Pengusaha ritel ini menyebutkan, dengan anjloknya harga minyak dunia seharusnya juga bisa dirasakan dan dinikmati rakyat Indonesia dan ini akan membantu ekonomi masyarakat, di tengah melambatnya ekonomi akibat wabah virus Covid-19. (***)


Terkini