Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

dis AS Periksa Manfaat Obat Pepcid untuk Tangani Covid-19

Selasa, 28 April 2020 | 17:00 WIB Last Updated 2020-04-28T10:00:04Z
(ilustrasi)

New York, fajarharapan.com - Famotidine, senyawa aktif dalam obat untuk mengatasi heartburn (sensasi perih dan panas pada dada) yaitu Pepcid yang dijual bebas, menunjukkan harapan dalam mengobati infeksi virus corona jenis baru (COVID-19). Hal ini nampaknya membuat sistem medis di New York, Amerika Serikat (AS) dilaporkan secara diam-diam memeriksa manfaat obat tersebut.

Tracey mengatakan jika hasil uji coba diperkirakan dapat diketahui dalam beberapa pekan mendatang. Ia menggarisbawahi bahwa belum bisa dipastikan apakah Pepcid dapat menujukkan keberhasilan dalam mengatasi COVID-19. 

“Jika kami membicarakan hal ini kepada orang yang salah terlalu dini, persediaan obat akan hilang atau habis,” ujar Kevin Tracey, mantan dokter ahli bedah saraf yang bertanggung jawab atas penelitian di sistem rumah sakit Northwell Health New York City, kepada Science Magazine, Selasa (28/4/2020).

Northwell Health, sistem 23 rumah sakit di NYC yang dianggap sebagai penyedia layanan kesehatan terbesar di New York, sedang melakukan penelitian Pepcid yang disetujui oleh Federal Drug Administration (FDA) dalam mengobati COVID-19. Terdapat beberapa daftar zat yang telah diteliti secara untuk menjadi pilihan dalam mengatasi infeksi virus corona jenis baru.

Northwell Health di wilayah New York City mulai menerima famotidine secara intravena, sembilan kali lipat dari dosis untuk mengobati heartburn. Tidak seperti obat lain yang diuji, diantaranya adalah sarilumab Regeneron dan remdesivir Gilead Sciences, sistem medis ini menyimpan penelitian famotidine secara rahasia untuk mengamankan persediaan penelitian sebelum rumah sakit lain, atau bahkan pemerintah federal yang akan mulai membelinya.

Sejauh ini dilaporkan setidaknya ada 187 pasien covid-19 yang dalam kondisi kritis di New York dan diikutkan dalam penelitian. Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan peningkatan harapan yang dramatis pada pasien setelah mengkonsumsi famoditine.

Penelitian juga menunjukkan bahwa famoditine dapat bekerja melawan virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) dengan menonaktifkan enzim kunci yang digunakan penyakit untuk membuat salinannya sendiri. Dalam sebuah laporan dari Cina dan hasil pemodelan molekuler menunjukkan obat tampaknya mengikat enzim kunci pada virus.

Meski demikian, di tengah potensi hydroxychloroquine dan chloroquine atau obat antimalaria yang dijadikan salah satu pilihan dalam mengobati pasien COVID-19 membuat para peneliti saat ini belum bisa optimistis terhadap famoditie. Setidaknya, hal ini hingga hasil penelitian dari 391 pasien pertama keluar.

Michael Callahan, seorang dokter di AS yang terkenal secara global, adalah pakar medis pertama yang melihat Pepcid secara menarik. Bekerja dengan para peneliti kesehatan Cina di Wuhan, kota tempat pandemi virus corona jenis baru yang menjangkiti dunia ditemukan, ia menemukan obat heartburn ini pada  yang kecil kemungkinannya untuk melawan infeksi.

Callahan kemudian memberitahu Robert Kadlec, dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS), tentang manfaat Pepcid terhadap COVID-19.

Para dokter yang berbasis di Massachusetts juga memeriksa dengan Robert Malone, kepala petugas medis dari organisasi Alchem Laboratories yang berbasis di Florida.

Malone sedang mengerjakan proyek rahasia yang dijuluki DOMANE yang mengandalkan simulasi komputer, kecerdasan buatan (AI), dan metode lain untuk secara cepat mengidentifikasi obat yang disetujui FDA dan senyawa aman lainnya yang dapat digunakan untuk memerangi penyakit baru seperti yang disebabkan oleh virus corona jenis baru.

Bersama dengan Joshua Pottel, kepala Molecular Forecaster yang berbasis di Montreal, Malone menggunakan pemodelan komputer untuk menunjukkan Famotidine, senyawa aktif di Pepcid, sebagai obat yang menjanjikan untuk melawan virus coronavirus.

Data anekdotal dari Cina dikombinasikan dengan pemodelan meyakinkan Callahan untuk menghubungi sistem rumah sakit New York untuk menjalankan studi acak double-blind yang sedang berlangsung. Famotidine dosis tinggi sebelumnya diketahui menyebabkan masalah jantung di antara pasien COVID-19, khususnya mereka dengan penurunan fungsi ginjal, sehingga para peneliti telah mengecualikan obat ini dari penelitian sebagaimana dikutip pada republika.co.id.

Sistem rumah sakit Northwell menggunakan dana sendiri untuk melakukan penelitian setelah mendapat persetujuan FDA. Menurut kelompok penelitian Pharma, pada awal April ada 284 uji klinis untuk pengobatan dan vaksin COVID-19 yang potensial dan sedang dilakukan di seluruh AS dan negara lainnya di dunia saat ini. (*)

×
Berita Terbaru Update