Ahli UGM: Tanpa Vaksin, Social Distancing Bisa Sampai 2022

Kamis, 23 April 2020, 17:00 WIB Last Updated 2020-04-23T10:00:04Z


(ilustrasi)
Yogyakarta, fajarharapan.com - Ahli Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad memperkirakan social distancing sebagai salah satu upaya untuk menghambat penularan virus corona (Covid-19) bisa berlangsung hingga 2022 jika belum ditemukan obat untuk menyembuhkan.

"Social distancing itu akan bisa sampai tahun 2022, kecuali kalau kita bisa mendapatkan vaksin yang bisa memproteksi seluruh populasi sekarang," kata Riris di Yogyakarta, Rabu (22/4/2020).
Riris mengatakan rapid test juga perlu diperluas untuk mendeteksi masyarakat yang terpapar virus corona, termasuk pengetatan isolasi diri kepada masyarakat yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).
"Kita harus lebih mengintensifkan screeening mandiri, kalau memang kapasitas diagnosis kita masih terbatas," ujarnya.

Menurut Riris, rapid test penting dilakukan untuk memastikan orang dengan kategori ODP, OTG, ataupun PDP dipisahkan dari populasi. Langkah tersebut untuk mencegah penularan virus corona yang lebih luas.

Meski demikian, ia mengatakan jika mata rantai penularan virus corona bisa diputus sekarang tak serta-merta sudah aman karena sebagian besar populasi masih mungkin terinfeksi.

"Ketika virus itu sudah ada di mana-mana, dan kita tidak mungkin bisa menutup sama sekali mobilitas, maka dari waktu ke waktu itu bisa menjadi sesuatu yang bisa muncul kembali," katanya.

Riris berpendapat masyarakat harus mulai beradaptasi di tengah penyebaran virus corona sampai beberapa waktu ke depan. Menurutnya, pandemi virus corona ini bisa berlangsung cukup lama.

Social distancing dan sejumlah upaya yang telah dilakukan saat ini, kata Riris, bisa menghambat penularan virus corona.
Lebih lanjut, Riris mengatakan transmisi lokal atau penularan dari generasi pertama ke generasi kedua sudah terjadi di semua kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ia mencontohkan dua kasus positif yang dialami oleh ibu rumah tangga dan pensiunan di Yogyakarta. Secara mobilitas, dua pasien tersebut bisa dikatakan sangat terbatas, dan jejaring sosialnya juga kecil.

"Jadi dia bisa dapat dari lingkungannya yang dia sendiri tidak tahu bahwa orang itu sakit atau tidak. Itu menjadi indikasi sudah ada penularan yang meluas, tetapi tidak tahu penularannya ada di mana," ujarnya.

Riris menambahkan dari 75 kasus terkonfirmasi positif di DIY per 22 April, 51 di antaranya merupakan kasus yang mempunyai riwayat perjalanan dari zona merah di luar DIY, baik itu dari dalam maupun luar negeri.

"Dari 51 kasus tersebut, kami mencatat ada 10 orang yang menularkan pada 12 kasus baru yang ini disebut sebagai generasi kedua. jadi ini adalah yang tercatat sebagai penularan lokal pertama," jelasnya.
Namun demikian, kata Riris, penularan lokal sifatnya terbatas karena masih dari kasus impor ke kasus orang pertama yang tertular. Kemudian dari situ baru muncul tiga kasus yang merupakan generasi ketiga.

"Kalau kemudian itu menjadi sangat luas, maka ini akan menjadi problem besar," ujarnya.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 DIY, Berty Murtiningsih mengatakan sampai saat ini total ODP di DIY mencapai 3.909 orang. Sedangkan PDP yang telah diperiksa sebanyak 713 orang.

Dari jumlah tersebut, 46 orang meninggal dunia, 134 pasien menjalani rawat inap, dan 533 orang lainnya rawat jalan sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.

Sementara, 75 orang di DIY dinyatakan positif virus corona. Dari jumlah itu, 7 orang meninggal dunia, 30 sembuh, dan 38 masih dirawat. (*)

Terkini