Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

50 Persen Anak Mulai Bosan Belajar dari Rumah

Rabu, 15 April 2020 | 09:37 WIB Last Updated 2020-04-15T02:39:04Z
Jasra Putra bersama anak-anak Indonesia. (ilustrasi)

50 Persen Anak Mulai Bosan Belajar dari Rumah
Jakarta, fajarharapan.com -- Sekitar 50 persen dari 4.000 anak yang disurvey mengaku mulai bosan belajar dari rumah. Mereka sudah rindu sekolah dan teman-teman. Sementara sekitar 30 persen anak-anak masih berada di luar rumah.

Demikian dikatakan Komisioner Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra di Jakarta, Rabu (15/4), menggunakan media daring.

“Survey yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukkan, sekitar 50 persen dari 4.000 anak mengaku sudah mengalami kebosanan menggunakan media belajar dari rumah. Di sisi lain, survey yang dilakukan Unicef menunjukkan, sekitar 30 persen anak masih berada di luar rumah,” ujarnya.

Menurutnya, terus meningkatnya jumlah orang yang terkonfirmasi terjangkit virus corona atau Covid-19 dan ratusan orang meninggal dunia menyita perhatian banyak kalangan, sehingga permasalahan anak sempat terlupakan.

Menurut tokoh muda asal Pasaman Barat itu, pemerintah perlu memastikan kondisi pengasuhan anak Indonesia terdampak Covid-19, baik di dalam negeri maupun yang kini berada di luar negeri. Untuk itu, tegasnya, perlu adanya kerjasama institusi terait di bidang kesehatan dan sosial.

“Kami menyarankan, panti asuhan harus diikutsertakan dalam permasalahan hilir wabah Covid-19 ini. Perlu diingat juga, selaku pilihan terakhir pengasuhan anak, panti asuhan agar didorong menjadi shelter sementara bagi anak sebagai respon kedaruratan sebelum memastikan pengasuhan pengganti,” ujarnya.

Dalam konteks penanganan wabah Covid-19 yang juga berdampak besar terhadap anak-anak, KPAI menurut Jasra, juga mendorong rumah sakit dan puskesmas untuk menyertakan panti asuhan dalam penanggulangan masalah-masalah yang menimpa anak.

Sebagaimana yang sudah melanda negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, Cina, dan negara-negara maju di Eropa, persoalan ekonomi rakyat jadi memburuk, karena banyak di antara mereka yang kehilangan penghasilan dan kehilangan pekerjaan. Kondisi seperti itu, tegasnya, diyakini juga akan berdampak terhadap pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak.

“Tiga faktor penting menjadi ancaman, pertama terkait akses makanan mereka, kedua akses tempat tinggal yang layak buat mereka, ketiga kesehatan jiwa yang bisa memburuk jika tidak diantisipasi, karena situasi di rumah saja yang bisa berkepanjangan dan ruang gerak terbatas. Bila ketiga hal tersebut tidak tertangani dengan baik, maka akan berdampak pada kesehatan dan dapat lebih buruk lagi,” jelas Jasra.

Jawaban permasalahan tersebut, ujarnya perlu solidaritas yang tinggi, gotong royong, dan bahu-membahu karena tidak semua masalah dapat dijawab pemerintah. Bersamaan dengan itu, menurut Jasra, perusahaan tempat orangtua mereka bekerja juga perlu mengambil peran dalam usaha menyelamatkan masa depan anak-anak negeri ini.(*)
×
Berita Terbaru Update