Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

163 Warga Korsel Positif Lagi Seusai Sembuh, Ilmuwan Sebut Covid-19 Musuh Menantang

Minggu, 19 April 2020 | 13:00 WIB Last Updated 2020-04-19T06:00:08Z
(ilustrasi)

Korea Selatan, fajarharapan.com - Muncul sebuah misteri di Korea Selatan (Korsel) terkait Covid-19 yaitu mengapa 163 orang yang telah dinyatakan sembuh, ternyata ketika dites ulang hasilnya masih positif terinfeksi virus corona.

Temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) itu memicu pertanyaan dapatkah seseorang terinfeksi Covid-19 lebih dari sekali?

Hal yang sama terjadi di China, beberapa pasien virus korona dites positif setelah dinyatakan pulih.
Di Korea Selatan, proporsi kasus seperti itu termasuk rendah, yaitu 2,1 persen dari 7.829 orang yang telah dinyatakan sembuh terinfeksi lagi, kata KCDC, Jumat (17/4/2020).

Wakil Direktur KCDC Kwon Joon-wook mengatakan sejauh ini tidak ada indikasi pasien yang dites ulang positif menular, meskipun sekira 44 persen dari mereka menunjukkan gejala ringan.

Namun dia mengingatkan masih banyak ilmuwan yang tidak tahu tentang virus, termasuk masalah kekebalan yang didapat secara alami.

"Covid-19 adalah patogen paling menantang yang mungkin kita hadapi dalam beberapa dekade terakhir. Itu adalah musuh yang sangat sulit dan menantang," ujar Kwon.

Untuk saat ini, penjelasan yang paling mungkin yaitu saat dilakukan tes ulang masih ada sisa virus.
Menurut Kwon, KCDC menyelidiki kembali tiga kasus dari keluarga yang sama, pasien dinyatakan positif setelah sembuh.

Seperti banyak negara, Korea Selatan menggunakan reaksi transkripsi rantai polimerase terbalik (RT-PCR) untuk menguji virus.

Menurut Kwon, tes ini mungkin masih mengambil bagian dari RNA bahkan setelah orang tersebut pulih karena tes sangat sensitif.

"Itu satu penjelasan yang paling mungkin dan sangat kuat," katanya.

Dalam konferensi pers awal pekan ini, ia mengatakan orang yang sembuh dapat terinfeksi lagi karena potongan-potongan penyakit tetap ada di tubuh mereka.

"Saya tidak terlalu khawatir tentang masalah ini," tambahnya.
Ada teori lain, mungkin ada kesalahan pada saat tes, atau virus bisa aktif kembali.

Manakala ada kesalahan tes, pasien mungkin mendapatkan hasil negatif palsu atau positif palsu.

Ada sejumlah alasan mengapa ini bisa terjadi, termasuk masalah bahan kimia yang digunakan dalam tes dan kemungkinan virus bermutasi sedemikian rupa sehingga tidak teridentifikasi.

Dalam briefing publik, Kwon mengatakan tidak mungkin pengujian memiliki kesalahan.

Namun, ia mengatakan para ilmuwan telah menyaring pasien yang hasil tesnya positif lagi, untuk memastikan tidak ada masalah terkait tes.

"Kami perlu penyelidikan lebih lanjut," tambahnya.
Untuk saat ini, KCDC sedang menyelidiki kasus yang tersisa untuk mendapatkan jawaban yang lebih konklusif.
Hasil yang berubah bisa membuat frustasi bagi pasien.

Karantina Seusai Sembuh
Jin Kim, yang dirawat di rumah sakit di Kota Daejeon, Korea Selatan, dinyatakan positif virus corona pada 25 Maret.
Ia kemudian dinyatakan sembuh, tetapi sehari kemudian dinyatakan positif lagi.

Pria berusia 25 tahun itu harus menjalani dua tes lagi.
Ia membutuhkan dua tes negatif berturut-turut untuk dinyatakan pulih.

Begitu dia ke luar dari rumah sakit, pemerintah merekomendasikan dia mengisolasi diri selama dua minggu.
"Saat ini, kami berpikir tidak ada bahaya penularan sekunder atau tersier lebih lanjut," kata Kwon.

Hal itu juga kekhawatiran yang membebani pikiran orang-orang di Amerika Serikat (AS).

Dokter Deborah Birx, Koordinator Penanganan Virus Corona Gedung Putih, mengatakan belum dapat dipastikan seseorang yang telah sembuh bisa menularkan virus corona pada orang lain.

"Itu adalah pertanyaan yang masih luar biasa. Itu belum dijawab dalam penelitian sampai saat ini," tambahnya.
Setelah pasien Covid-19 dinyatakan pulih, KCDC merekomendasikan waktu dua minggu untuk melakukan isolasi diri sebagaimana dikutip pada tribunnews.com.

Sung-Il Cho, seorang profesor epidemiologi di Sekolah Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Nasional Seoul, juga menyarankan pasien yang dipulangkan untuk tetap dikarantina untuk memastikan tidak ada pemulihan deteksi virus. (*)




×
Berita Terbaru Update