Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Terancam Kelaparan, Korban Banjir Pasaman Merasa Diabaikan

Senin, 02 Maret 2020 | 00:05 WIB Last Updated 2020-03-01T17:05:03Z

Kendaraan operasional MDMC Sumbar melewati akses jalan yang hancur, akibat diterjang banjir bandang, mengantar bantuan darurat untuk korban di daerah terujung Muara Sungailolo yang kini masih terisolasi. (Musriadi Musanif)
Pasaman, fajarharapan.com - Korban banjir bandang di Mapattunggul Selatan merasa diabaikan. Bantuan banyak terdengar, tapi tak kunjung juga sampai ke kampung mereka.

Kini, ada seribuan jiwa warga yang menjadi korban terancam kelaparan dan sulit mendapat air bersih.

Kondisi terparah dialami warga di Jorong Rotan Gotah, Sungai Lolo, dan Tombang. Hingga Minggu (1/3/2020), belum tersentuh bantuan logistik sama sekali. 

“Belum ada bantuan dari pemerintah yang kami terima, baik dari kabupaten maupun provinsi. Sementara kami mendengar, jorong-jorong lain sudah dapat bantuan,” ujar masyarakat di ketiga kampung yang kini masih sulit dijangkau kendaraan itu.

Informasi tidak adanya bantuan yang masuk, disampaikan warga setempat kepada tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumbar, Sabtu (29/2/2020) malam, saat berdialog dengan warga bersamaan dengan penyaluran bantuan darurat berupa pangan yang dihimpun dari masyarakat dan warga Muhammadiyah.

Kepala Jorong II Sungai Lolo Saputra dan beberapa warga Jorong Rotan Gotah menyebut, bila tidak ada juga kepedulian pemerintah dan bantuan pangan darurat, mereka dalam beberapa hari ke depan akan terancam kelaparan.

“Kami kini kesulitan bahan pangan. Begitu pula dengan air bersih. Bak penampung air bersih hancur dihantam banjir bandang, sehingga kami kesulitan mendapat air bersih. Permohonan sudah disampaikan kepada beberapa pihak, terapi sejauh ini tidak ada yang peduli,” ujarnya, diamini warga lain Meri Saputra, Kunin, Peri, Ijul, Rudi, Putra, dan Imra.

Dikatakan, mereka juga juga mengajukan permohonan bantuan mengatasi masalah kersediaan air bersih ke Provinsi Riau, daerah terangga terdekat. Tapi sejauh ini, ujarnya, bantuan belum juga bisa didapat.

Ketua MDMC Sumbar Marhadi Efendi didampingi Sekretaris Portito mengatakan, kondisi masyarakat korban banjir bandang di Sungai Lolo dan Rotan Gotah memang sangat memprihatinkan. Mereka berharap, instansi terkait dan pemerintah daerah dapat segera mengunjungi lokasi, guna mencarikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi masyarakat.

“Ancaman kelaparan dan serangan penyakit kini benar-benar nyata. Masyarakat merasa ditinggalkan oleh pemerintahnya sendiri. Mereka dibiarkan meratapi masalah yang dihadapi, setelah dihantam bencana banjir dan galodo beberaa waktu lalu,” sebutnya.

Berdasarkan keterangan masyarakat, ujarnya, bantuan yang disalurkan berbagai pihak di tingkat provinsi, termasuk dari gubernur dan wakil gubernur Sumbar, sejauh ini belum bisa dinikmati masyarakat di kedua jorong itu. Selain akses transportasi yang masih sulit dilewati, letak pemukiman mereka pun jauh dari pusat pemerintahan kecamatan dan nagari.

“Jorong Sungai Lolo, Rotan Gotah, dan Tombang itu jauh. Jalannya sulit dilewati. Bisa memakan waktu sampai delapan jam dari jalan nasional. Bila tak ada juga penanganan secepatnya, paling tidak ada lima titik jalan raya menuju lokasi bencana yang akan terban ke jurang,” tegas Marhadi.

Selain sulitnya akses transportasi dan minimnya bantuan, sekitar 200-an hektare sawah masyarakat gagal, karena dihantam banjir yang terjadi pada Sabtu (15/2/2020) sekira pukul 01.00 WIB itu.

“Tolonglah perhatikan nasib kami. Bantulah kami mengatasi masalah darurat pangan dan air bersih ini. Sampai 29 Februari 2020, belum ada bantuan dari pemerintah yang sampai ke tempat kami. Satu-satunya bantuan darurat baru datang dari MDMC Sumbar,” kata warga.

Sebagaimana diberitakan, bencana galodo dan banjir itu mendera masyarakat Nagari Muaro Sungailolo di Kecamatan Mapattunggul Selatan. Dua warga meninggal dunia dan satu lainnya loka berat akibat bencana itu. Sekitar 200 kepala keluarga hingga kini masih mengungsi di SDN 17 Sungai Lolo dan beberapa titik ketinggian lainnya.

Ada sepuluh rumah warga rusak berat, rusak sedang 25, dan rusak ringan 30. Sejumlah fasilitas umum dan jembatan juga banyak yang hancur dalam musibah tersebut. Sementara 60 hektare sawah rakyat sudah dipastikan mengalami gagal panen dan gagal tanam.

Sedangkan daerah yang masih terisolasi dan hampir belum tersentuh bantuan sama sekali meliputi Pangian dan Rotan Gotah. Di Rotan Gotah terdapat tiga kampung dengan 620 jiwa penduduk dan tergabung ke dalam 124 kepala keluarga.

Di Kampung Pintuai, hingga kini 100 KK dengan 450 jiwa masih terisolasi. Mereka juga belum tersentuh bantuan logistik dan pangan darurat. “Bila ditotal, lebih seribuan jiwa di sana terancam kelaparan,” tegas Marhadi. (musriadi musanif) 

×
Berita Terbaru Update