Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cerita Diva Usai Dievakuasi dari Wuhan

Jumat, 21 Februari 2020 | 08:50 WIB Last Updated 2020-02-21T01:50:32Z


Diva memperlihatkan dokumen kesehatannya, usai dievakuasi dari Wuhan, Tiongkok.

TANAH DATAR—Mata dunia terfokus ke Wuhan, sebuah kota metropolitan di Tiongkok atau China, sejak merebaknya virus mematikan yang telah menelan korban ribuan jiwa meninggal dunia.

Banyak negara yang mengevakuasi warganya dari Tiongkok, termasuk Indonesia. Sebanyak 238 orang Warga Negara Indonesia (WNI) dievakuasi dari negeri tirai bambu tersebut. Sebelum dikembalikan ke kampung halaman masing-masing, mereka menjalani karantina bersama 18 orang awak pesawat yang membawanya kembali ke Indonesia.

Seorang mahasiswi asal Kabupaten Tanah Datar bernama Diva Athalia Salsabila ada dalam ratusan WNI yang dipulangkan tersebut. Selama 14 hari, Diva turut dikarantina untuk menjalani observasi di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Pada Minggu (16/2), Diva tiba di Batusangkar. Dengan didampingi orangtuanya bernama Athosra, Diva mampir ke Gedung Indojolito untuk berbagi cerita. Kepulangan mahasiswi Fakultas Kedokteran pada Hubei Polytechnic Univesity itu, disambut sejumlah pimpinan kabupaten dengan sebutan Luak Nan Tuo itu.

Di antara pejabat yang menyambut, mewakili Bupati H. Irdinansyah Tarmizi, terlihat Asisten Pemerintahan dan Kesra Suhermen, Kepala Dinas Kesehatan Yesrita Z, Kabag Humas dan Protokol Yusrizal , dan perwakilan Dinas Sosial setempat.

Banyak cerita Diva terkait dengan merebaknya Corona Virus Disease yang dikenal dengan istilah Covid-19 tersebut. Diva bersama para mahasiswa asal Indonesia lainnya yang dievakuasi berharap, wabah ini cepat bisa diatasi dan mereka dapat kembali melanjutkan pendidikan di sana.

“Kami berharap kembali lagi ke China untuk menyelesaikan pendidikan yang terganggu akibat wabah ini. Semoga kondisi cepat kembali membaik. Sementara ini, kami belajar menggunakan sistem online,” katanya membuka cerita.

Sebagaimana rekan-rekannya yang sama menjalani observasi di Natuna, Diva dinyatakan sehat dan terbebas dari infeksi Covid-19. Surat keterangan sehat itu dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI.

Dikatakan, saat mengisi waktu liburan di Wuhan bersama beberapa temannya, Diva terperangkap di kota metropolitan itu. Mereka tak bisa lagi keluar, karena pemerintah Tiongkok setempat sudah mengisolasi (lockdown) kota yang menjadi pusat penyebaran Covid-19.

“Sepuluh hari kami diisolasi di kota itu, hingga akhirnya dievakuasi pemerinah Indonesia. Alhamdulillah, kami terbebas dari vius mematikan itu dan kini sudah berkumpul bersama keluarga di Batusangkar,” katanya.

Pemkab Tanah Datar, menurut Suhermen, turut berbahagia karena Diva berhasil dengan selamat sampai ke kampung halaman. Karena sudah dinyatakan sehat oleh instansi berwenang, menurutnya, maka tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

“Alhamdulillah, anak kita berhasil sampai ke kampung halaman dengan selamat dan sehat. Semua prosedur pemulangan WNI dari China sudah dilaluinya. Tak ada lagi yang harus dicemaskan,” katanya.

Dilepas bupati
Diva berangkat ke China pada akhir Juni 2018 silam. Dia berangkat bersama seorang remaja asal Tanah Datar lainnya bernama M. Fajar Setyawan. Sebelum berangkat, keduanya sempat menghadap dan berbincang dengan Bupati Tanah Datar H. Irdinansyah Tarmizi di rumah dinasnya, Komplek Gedung Indojolito Batusangkar.

Keduanya diantar Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Tanah Datar Abrar; saat itu menjadi kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) setempat. Alumni SMA Negeri 1 Batusangkar itu mendapat beasiswa di Fakultas Kedokteran Hubei Polytechnic Univesity, setelah melewati serangkaian seleksi ketat oleh pemberi beasiswa.

Program beasiswa itu diselenggarakan Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Center (ITCC). Yayasan tersebut setiap tahun memberi beasiswa kepada 500 anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan di berbagai universitas yang terdapat di Cina.

ITCC memperoleh kepercayaan dari sejumlah universitas di Cina untuk memilih putra putri terbaik Indonesia. Kabupaten Tanah Datar baru tahun ini ikut program itu dan Alhamdulillah, Diva dan Fajar dinyatakan lulus. Keduanya akan menempuh studi di sana untuk jangka waktu enam tahun.

Kelebihan program kedokteran di situ, menurut penjelasan Abrar, lulusannya akan mendapat dua gelar sekaligus, setelah menempuh studi kedokteran umum dan peminatan keahlian bedah akan mendapat gelar Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery (MBChb), sehingga akan lebih gampang melanjutkan ke jenjang spesialis bedah.

Diva adalah putri pertama dari Athosra (sekretaris RSUD M. Ali Hanafiah Batusangkar) dan Haslinda. Sedangan Fajar adalah putra kedua dari Aslamudin (camat Sungayang) dan Sulti Irianti.(Musriadi Musanif)
×
Berita Terbaru Update