Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Putra Minang, di Balik Lahirnya Trilogi Sumpah Pemuda

Senin, 28 Oktober 2019 | 19:47 WIB Last Updated 2019-10-28T12:48:47Z

Muhammad Yamin


PADANG-Setiap 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Ini merupakan tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Pada Kongres Pemuda kedua yang diselenggarakan 27-28 Oktober 1928 di Jakarta, menghasilkan keputusan yang akrab disebut "Sumpah Pemuda". Bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda adalah.

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatun, bahasa Indonesia.

Istilah Sumpah Pemuda sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Dia adalah Muhammad Yamin, aktor utama dibalik dirumuskannya tiga poin penting dalam sumpah pemuda.

Pria kelahiran Talawi, Sawahluntu, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903, ini memang dikenal sebagai sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang telah dihormati sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dari berbagai sumber disebutkan, pada 1928, ketika akan ada Konggres Pemuda II 1928, maka Sugondo terpilih jadi Ketua atas persetujuan Mohammad Hatta sebagai ketua PPI di Negeri Belanda dan Ir. Sukarno (yang pernah serumah di Surabaya) di Bandung. Selain Soegondo, kandikat ketua lainnya adalah pemuda bernama Mohammad Yamin.

Ya, pada saat itu, Mohammad Yamin adalah salah satu kandidat ketua. Namun, kongres pemuda membutuhkan ketua yang sangat netral. Sementara itu, ia berasal dari Jong Sumatra. Akhirnya, Soegondo dipilih sebagai Ketua. Yamin diangkat menjadi Sekretaris.

Saat itu, notulen rapat masih ditulis ke dalam bahasa Belanda. Penunjukan Mohammad Yamin sebagai Sekretaris terasa begitu tepat karena dialah salah satu peserta yang mahir berbahasa Indonesia sehingga hal-hal yang perlu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang benar bukanlah hambatan.

Pada sesi terakhir Kongres Pemuda II, Soenario, perwakilan dari kepanduan (sekarang pramuka), berpidato. Saat itulah Yamin yang duduk di sebelah Soegondo menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo seraya berbisik, “Ik heb een elganter formuleren voor de resolutie (saya mempunyai rumusan resolusi yang lebih luwes).”

Di atas secarik kertas itu, tertulis tiga frasa yang kemudian dikenal sebagai trilogi sumpah pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Selanjutnya Soegondo memberi paraf pada secarik kertas itu yang menyatakan setuju, dan diikuti oleh anggota lainnya yang menyatakan setuju juga. Akhirnya ikrar sumpah pemuda dibacakan oleh Soegondo dan diikuti oleh semua peserta.

Selain dikenal sebagai tokoh sumpah pemuda, M Yamin juga salah satu perintis puisi modern Indonesia. Tercatat puluhan karya sastranya baik berbentuk puisi, cerpen, naskah drama, bahkan novel ditelurkannya.

Hingga pada 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun, M Yamin tutup usia dan dimakamkan di kampung halamannya, Talawi, Sawahlunto, Sumbar. Beragam penghargaan pun pernah menghampiri tokoh bangsa ini di antaranya Bintang Mahaputra RI, tanda penghargaan tertinggi dari Presiden RI atas jasa-jasanya pada nusa dan bangsa.

Tanda penghargaan dari Corps Polisi Militer sebagai pencipta lambang Gajah Mada dan Panca Darma Corps, dan terakhir Tanda penghargaan Panglima Kostrad atas jasanya menciptakan Pataka Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.

Selain Muhammad Yamin ada empat tokoh lagi berperan penting dalam Sumpah Pemuda ini. Dikutip dari berbagai sumber, mereka adalah

1. Soenario Sastrowardoyo

Perjalanannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia sangat besar karena ia berperan secara aktif dalam 2 peristiwa yaitu Manifesto 1025 dan juga Kongres Pemuda II yang merupakan tonggak dari sejarah nasional.

Dalam Manifesto 1925, ia merupakan pengurus atau lebih tepatnya Sekretaris II Perhimpunan Hindia yang kelak berganti menjadi Perhimpunan Indonesia yang terdapat di negeri Belanda.

Kemudian dalam Kongres Pemuda II sendiri, Soenario membantu melancarkan perjalanan Kongres sebagai penasihat karena ia memiliki banyak pengalaman dalam organisasi.

2. Wage Rudolf Soepratman

Tokoh sumpah pemuda yang satu ini kita kenal dari lagu Indonesia Raya yang diciptakannya. Pada saat Kongres Pemuda II, Supratman meminta izin kepada Soegondo selaku ketua Kongres untuk memperdengarkan lagu yang diciptakannya.

Soegondo kemudian mencari cara aman karena saat itu Kongres dijaga para polisi Hindia Belanda sehingga kata-kata merdeka ditakutkan bisa memicu pembubaran bahkan penangkapan.

Untuk itu, secara diplomatis dan elegan, memberikan izinnya kepada Supratman untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya tersebut lewat lantunan biola.

3. Soegondo Djojopoespito

Ia merupakan ketua panitia dari Kongres Pemuda II yang pada perkembangannya menghasilkan peristiwa Sumpah Pemuda ini. karirnya sebagai seorang pejuang nasionalisme sudah dimulai sejak ia duduk di bangku kuliah dan bahkan ia telah mengikuti kegiatan Kongres Pemuda I yang diselenggarakan pada tahun 1926.


4. Dolly Salim

Ia bernama lengkap Theodora Athia Salim. Putri dari Haji Agus Salim ini mewakili organisasi kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Natipij berada di bawah naungan Persatuan Pemuda Islam atau Jong Islamieten Bond (JIB), di mana ayah Dolly, Haji Agus Salim berkedudukan sebagai penasihat.

Dolly adalah orang pertama yang menyanyikan lagu Indonesia Raya di depan publik. Setelah Kongres Pemuda II ditutup dengan lantunan biola W.R. Soepratman, banyak yang meminta lagu tersebut dinyanyikan. Dolly terpilih untuk menyanyikannya. Karena tidak ada panggung, ia naik ke atas kursi dan bernyanyi, tanpa menyebut kata 'merdeka'. Pada saat itu, usianya 15 tahun. (*)

×
Berita Terbaru Update