Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pesisir Barat Sumatera Mulai Menggeliat

Jumat, 18 Oktober 2019 | 16:58 WIB Last Updated 2019-10-18T10:06:41Z


Pedagang ikan kering di Pasar Natal, Kabupaten Madina, kota pelabuhan terbilang tua di pesisir barat Sumatera.(musriadi musanif)

DAERAH pesisir di kawasan barat Sumatera kini mulai menggeliat. Jalan nasional sudah menjangkau hampir 80 persen daerah pantai itu. Terbentang mulus sejak dari Lampung hingga Bengkulu, Sumbar, Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Berdasarkan penyisiran yang penulis lakukan, jalan lintas di pantai barat Sumatera masih terputus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Persisnya dari Singkuang di tapal batas Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hingga ke Kota Sibolga. Belum diperoleh informasi, apa penyebab jalan yang melintasi perkampungan nelayan di Batumundom itu belum juga dibangun.

Di etape I, penulis menyisir pantai barat Sumatera dari Kota Padang menuju Bengkulu dan Lampung. Rata-rata jalannya sudah mulus. Hanya ditemukan jalan-jalan berlobang di kawasan Lunang dan Silaut dalam wilayah Kabupaten Pesisir Selatan.

Pemadangan indah terhampar sepanjang jalan. Habis pantai-pantai mempesona, tiba pula perkebunan kelapa sawit. Setelah itu, jalan mulus tersebut meliuk-liuk di perkebunan karet. Sungguh, pemandangan yang luar biasa indah. Kendaraan yang lalu-lalang masih terbilang sepi. Rumah makan dan tempat peristirahatan juga sulit ditemukan.

Suasana serupa, didapat pula ketika penulis menyisir pesisir barat Sumatra pada etape II: Pariaman, Pasaman Barat, Natal, Singkuang, Sibolga, dan Barus. Pemandangan indah terhampar dalam bentuk pantai yang indah, perkebunan kelapa sawit, dan kebun karet. Di jalur ini, kendaraan ramai lalu-lalang hanya ditemukan di sepanjang Pariaman hingga Ujunggading di Pasaman Barat. Selebihnya, sepi.

Bertolak dari Pariaman sekitar pukul 11.00 WIB, kami tiba di Natal pukul 18.00 WIB. Kami memutuskan untuk bermalam di kota pelabuhan yang amat terkenal pada zaman penjajahan Belanda itu. Ada beberapa hotel kecil di sini yang terbilang cukup nyaman. Ada juga mess Pemkab Madina dan Pemprov Sumut yang juga menerima tamu umum.

“Penginapan di sini umumnya penuh pada Senin malam, karena Selasa adalah hari pasar di Natal. Banyak pedagang yang berdatangan dari pedalaman Sumatera datang ke sini. Ada yang menjual dagangan, ada pula yang ingin membeli produksi laut dan hutan daerah sekitar Natal,” kata seorang petugas kepolisian yang ditemui di Mapolsek setempat.

Natal adalah kota kecamatan. Aktifitas nelayan terbilang tinggi di sini. Banyak kapal-kapal nelayan yang berlabuh untuk menjual hasil tangkapan mereka. Ada juga yang menjual ikan yang sudah dikeringkan. Ada pendapat, Natal adalah bagian dari daerah Rantau Minangkabau, tapi SK-nya digantung oleh pemimpin Pagaruyuang lantaran raja yang menjabat tidak memenuji syarat.

Selain aktifitas pelabuhan dan nelayan, Natal amat dikenal sebagai salah satu tempat persinggahan Eduard Douwwis Dekker yang kemudian dikenal dengan nama Multatuli, seorang Belanda yang pada akhirnya memihak Indonesia. Di Natal ada seruas jalan bernama Jalan Multatuli. Di ruas jalan itu terdapat rumah bekas Multatuli tinggal. Ada pula sumur yang disebut masyarakat setempat dengan ‘sumur multatuli’.

Menurut beberapa referensi yang bisa ditelusuri melalui mesin pencari google, Douwis Dekker alias Multatuli itu tiba di Padang awal abad 18, namun kemudian Gubernur Sumbar Kolonel Andreas Victor Michiels mengirimnya ke Natal menjadi seorang kontroleur. Dia dikirim ke kota kecil itu karena dikenal memiliki reputasi buruk, yakni suka berjudi dan menempeleng orang.

Di Natal itulah, Eduard Douwes Dekker menunjukkan keberpihakannya terhadap pribumi dalam melawan penjajahan Belanda. Padahal pada waktu itu, dia masih berstatus sebagai pejabat kolonial Hindia Belanda.

Eduard Douwes Dekker ketika berada di Natal sempat menulis sebuah buku terkenal berjudul Losse Bladen uit het Dogbck van een ud Man (Halaman-halaman lepas dari buku harian seorang lelaki tua).

Selain Multatuli, di pelabuhan kecil bernama Natal ini juga terpaut nama seorang pahlawan nasional, yakni Sutan Syahrir. Dia adalah perdana menteri Inonesia pertama yang merangkap Menteri Dalam dan Luar Negeri. Sutan Syahrir di lahirkan di Padang Panjang pada Maret 1909. Ayahnya bernama Mohammad Rasyad Maharajo Sutan berasal dari Kotogadang, tetapi ibunya asli puteri Natal, bernama Siti Rabiah.

Sayangnya, Natal kini menjadi sepi sendiri. Daerah bersejarah ini seakan tenggelam dalam kesepian pembangunan. Bertahun-tahun akses transportasi ke sini tidak kunjungi dibenahi. Jalan rayanya dipenuhi lobang. Untunglah, seiring dengan adanya jalan lintas barat Sumatera, Natal dengan mudah bisa dijangkau dari Pasaman Barat.

Masyarakat Natal kini bisa tiap hari berkunjung ke Padang dan Bukittinggi, seiring dengan terbukanya jalan mulus di pantai barat tersebut. Warga Natal juga sudah bisa setiap hari berkunjung ke Sibolga melintas jalan mulus dan baru saja selesai dibangun.

Dari Natal ke Sibolga memakan rentang jarak hampir 300 kilometer dengan jarak tempuh 5-6 jam. Entah kenapa, jalan lintas barat itu dibelokkan ke pedalaman Tapanuli Selatan hingga sampai di Batangtoru. Padahal bila dibuka jalan baru melewati Batumundom, tentu jarak Natal-Sibolga bisa lebih diperpendek lagi.

Perjalanan dari Natal melewati Tabuyung hingga Singkuang, memang terbilang kurang nyaman. Selain dihiasi banyak lobang, jalan ini juga jadi tempat bermain berbagai hewan ternak. Beda dengan jalur jalan baru dari Singkuang ke Batangtoru sepanjang lebih dari 145 kilometer yang sepi.

Kendati sepi, tapi banyak pesona alam bisa dinikmati sepanjang jalan. Ada perkebunan kelapa sawit dan karet, ada pula panorama belantara rawa-rawa, air terjun tiga tingkat setinggi 200-an meter bernama Simatutung, dan klimaksnya adalah pesona Danau Siais yang masih perawan.(Musriadi Musanif)
×
Berita Terbaru Update