Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Demo Nyaris Rusuh, Sejumlah Fasilitas Dirusak, Kantor Gubernur Sumbar 'Disegel' Mahasiswa

Rabu, 25 September 2019 | 11:07 WIB Last Updated 2019-09-25T13:20:26Z
Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi badan eksekutif mahasiswa (BEM) demo di kantor gubernur Sumbar, Selasa (24/9/2019). (ist)

Padang, fajarharapan.com - Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sumatra Barat kembali berunjuk rasa di halaman kantor Gubernur, Selasa (24/9). Berjam-jam mereka berorasi lalu mahasiswa itu menyegel kantor orang nomorsatu di Sumbar itu.


Mereka menerobos barisan aparat yang berjejer di depan pintu masuk rumah bagonjong. Lalu naik ke semua lantai. Sejumlah fasilitas pun dirusak .

“Dinding pembatas di lantai 3 rusak, kipas angin dan sejumlah perlengkapan lainnya juga rusak,” ujar seorang petugas Pol PP.



Dalam aksi di “Rumah Bagonjong” mahasiswa menuntut berapa isu yang tengah terjadi belakangan ini. Itu terlihat dari spanduk yang dipegang masing-masing. Bahkan, mahasiswa masih menuntut bertemu Gubernur Irwan Prayitno untuk menyampaikan orasinya.

Spanduk yang dibentangkan para mahasiswa ini membentangkan berapa tulisan diantaranya, “Petani Miris Di Negeri Agraris”, “Save Ibu Pertiwi”, “Jaga Tanah Kita”, “Demi Perut Kalian Kami Sengsara”, “DPRD Tolol”, “Dicari Sumbar Gubernur Hilang”.

“Negeri kita sedang sakit, bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Kalau bukan kita mahasiswa siapa lagi yang akan turun menyampaikan aspirasi rakyat,” ujar salah seorang mahasiswa dalam orasinya.

Sementara itu Kordinator Lapangan Aliansi BEM Sumbar, Agung Deni Pratama  menilai, dalam momentum Hari Tani Nasional kali ini melihat nasib petani kecil sangat miris dan masih belum sejahtera.

“Kita fokus hari ini pada hari tani, menyuarakan aspirasi petani untuk kesejahteraannya. Meskipun ada berapa baliho atau spanduk menyampaikan aspirasi lain. Tapi kita tetap satu suara untuk rakyat Indonesia,” katanya sebagaimana dikutip topsatu.com.

Mahasiswa menuntut pemerintah melaksanakan program yang telah dilakukan untuk kesejahteraan petani.

“Program itu dengan memberikan pendampingan kepada petani tentang pengunaan teknologi dalam pengembangan pertanian,” tuturnya.

Kemudian jika pemerintah ingin bantuan dari mahasiswa pertanian, maka mahasiswa bersedia membantu karena semua itu untuk kemajuan pertanian.

Sementara, Kepala Kesbangpol Sumbar, Nazwir yang menerima mahasiswa menjanjikan akan dipertemukan gubernur dengan mahasiswa.

“Gubernur tidak ada hari ini, karena lagi rapat di Kementerian. Jadi hari ini Pak Gub tidak dapat hadir. Saya solusikan nanti mahasiswa akan dipertemukan dengan gubernur,” tukasnya di hadapan ribuan mahasiswa.


Meskipun sudah ditemui Kepala Kesbangpol, mahasiswa tetap melakukan orasi di kantor gubernur, bahkan mendesak Kepala Kesbangpol membacakan tuntutan mereka dan juga menandatanganinya.

Ada 15 poin tuntutan demonstran yang disampaikan dan Kepala Kesbangpol didaulat membacakan dihadapan mahasiswa. Diantaranya, menuntut pemerintah untuk berhenti melakukan impor komoditas pertanian dan peternakan, menuntut pemerintah meningkatkan produktivitas komoditas pertanian dan peternakan. 

Menuntut pemerintah untuk memperluas lahan pertanian dan memastikan kepemilikan lahan 2 hektar per petani, menuntut pemerintah untuk menambah jumlah dan meningkatkan kualitas penyuluh pertanian, 5. Menuntut pemerintah untuk segera perbaikan irigasi dan penyediaan alat mesin pertanian atau peternakan dan teknologi sesuai kebutuhan petani.

Usai dibacakan Kepala Kesbangpol tuntutan mahasiswa tersebut, mahasiswa meminta untuk menandatangani tuntutan itu diatas materai, dan mahasiswa memberi waktu 2 hari kepada Pemprov Sumbar untuk melaksanakan tuntutan itu.

Sebelum itu, mahasiswa yang hendak berusaha masuk sempat bentrok dengan pihak kepolisian diwarnai dengan lemparan dari pihak mahasiswa yang dibalas tembakan watercanon dari pihak kepolisian.

Aksi demo yang mulai ba’da Zuhur berlangsung hingga lewat dari 18.15 WIB, sedangkan jadwal yang ditetapkan hingga pukul 18.00 WIB. Aparat pun memberi peringatan lewat pengeras suara. Imbauan itu tak digubris mahasiswa. Lalu pengeras suara diambil alih korlap mahasiswa, barulah para mahasiswa itu melunak. Mereka yang dilantai 3 dan 4 mulai turun ke bawah. Aksi diakhiri dengan penurunan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. (*)
×
Berita Terbaru Update